Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Desember 2010

asma nadia's short story : Cinta Laki-laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.


Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Read More »»

Jumat, 26 November 2010

Senja Terakhir

“Apa maksudmu?” Tanya Ray hati-hati pada kekasihnya. Hatinya porak poranda. Ia tidak menyangka kalau rasanya akan lebih sakit daripada yang ia bayangkan. Ya, hatinya sakit.

“Aku sudah mengatakannya dengan jelas, Ray. Aku tak ingin lagi berhubungan denganmu. Denganmu, ataupun dengan laki-laki manapun!” Ray tercekat. Kata-kata terakhir dari kekasihnya begitu meluluh lantakkan hatinya. Cinta yang ia kira akan selamanya, telah kandas.

“Ke.. kenapa, Rian?? Kenapa tiba-tiba kau ingin putus…?” Takut-takut Ray bertanya pada Rian, kekasihnya itu. Takut kalau hal yang akan dikatakan Rian akan lebih membuatnya sakit. Dengan tatapan penuh harap ia memandang Rian, yang sedari tadi tak menoleh padanya. Melainkan selalu memalingkan muka.

“Aku ingin kembali normal, Ray. Kau pasti mengerti. Akhir-akhir ini… aku selalu memikirkan seorang gadis yang aku kenal. Dan aku berpikir, mungkin aku bisa kembali menjadi laki-laki pada umumnya. Maafkan aku, Ray… lebih baik kita kembali kepada kodrat kita sebagai laki-laki…”

Sesak, tiba-tiba saja nafas Ray sesak. Seperti ada panah tajam yang tak terlihat menghujam hatinya tanpa ampun. Luar biasa sakit yang ia rasakan. Matanya pun berkaca-kaca. Sambil tertunduk, ia menyesali kepergian kekasihnya…
*  *  *  *  *


Ray terbangun dari tidurnya. Matanya menyapu seluruh pemandangan malam di luar jendela bus antar provinsi yang ia naiki. Gelap dan sesekali berhias lampu-lampu neon lima watt. Ray memutuskan untuk pergi meninggalkan kotanya, menjauh dari segala hal yang bisa membuatnya teringat akan kenangannya bersama Rian. Mungkin tempat yang kini ia tuju akan memberinya obat dari luka yang ia rasakan kini.

Ia sangat tahu, kalau dirinya itu memang bukanlah manusia normal. Tepatnya, bukan laki-laki normal pada umumnya. Masa lalu yang pahit bersama ibu kandungnya yang kejam membuatnya begitu benci dengan manusia bernama perempuan. Walau mungkin, orang lain tak pernah tahu dengan ketidak-normalannya selama ini. Kalau pun ada yang tahu, pasti tidak akan percaya. Melihat Ray yang berwajah tampan, dan berpenampilan layaknya laki-laki biasanya. Kadang ia tertawa, melihat beberapa surat cinta yang dialamatkan padanya. Semua perempuan itu pembual dan bermuka dua!, pikir Ray. Kakak perempuannya, juga teman-teman kakaknya membuktikan itu semua. Mereka yang bermuka manis di depan laki-laki, tapi diam-diam menusuk dari belakang, membuatnya semakin jijik kepada perempuan.

Namun Ray tetaplah manusia biasa. Manusia yang memang fitrahnya bisa merasakan cinta. Tapi cinta itu bukan hadir dalam wujud bidadari berparas jelita, atau putri kahyangan yang memiliki senyum termanis. Melainkan dari seorang Rian yang ternyata bernasib sama dengannya. Yang ia temui di salah satu night club di ibu kota. Tiga tahun ia tenggelam dalam cinta yang sangat ia muliakan itu. Cinta yang justru akan membuat makhluk di dunia merasa jijik. Ray tak peduli, yang penting baginya adalah ia mendapat kebahagiaan yang ia cari selama ini. Tapi ternyata, kebahagiaan itu pun harus kandas.

Bus yang ia naiki akhirnya tiba di kota yang ia tuju. Bergegas ia mengemasi barang bawaannya. Dan saat bus benar-benar berhenti, ia turun. Bersama beberapa orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya.

Pagi masih begitu dini. Dengan keremangan Ray menapaki jalan menuju rumahnya. Ini memang bukan kali pertamanya ia datang ke kota ini. Beberapa kali dalam setahun, ia akan mengunjungi kota ini karena keperluan pekerjaan. Pekerjaannya sebagai seniman memang sedikit banyak menuntutnya untuk mengunjungi banyak kota. Hal itulah yang membuat Ray harus memiliki rumah di beberapa kota. Ya, Ray memang seorang seniman yang cukup di kenal. Walau tak ada yang tahu kebusukan di dalam dirinya. Setidaknya, sampai saat ini orang di sekitarnya, atau para seniman-seniman di sekelilingnya tidak pernah tahu tentang kehidupan pribadinya. Ia hanya di kenal sebagai seniman sejati yang sampai saat ini setia dengan kelajangannya.

“Eh, kok ga pakai mobil, tuan..?” sapa satpam penjaga rumah setengah kaget dan setengah terkantuk saat Ray tiba di depan rumah. Satpam itu tidak biasa melihat tuannya hanya berjalan kaki.

“Mobil dan rumah saya di sana sudah di jual, Pak. Mungkin saya tidak akan kembali kesana lagi.” Jelas Ray dengan suara yang menyiratkan lelah. Satpam itu hanya diam dan tidak kembali bertanya.

Setiba di rumah, Ray merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk. Matanya terasa begitu berat. Belum sampai satu menit, Ray sudah kembali terlelap.

Tiba-tiba saja Ray merasakan panas di sekujur badannya. Panas tiada tara. Ray meringis, karena ada perih yang ia rasakan di badannya. Keringat membanjiri tubuhnya. Saat matanya benar-benar terbuka, ia terkejut mendapati dirinya sama sekali tidak berpakaian. Sontak ia terbangun.

“Aaarghh!.” Jerit Ray saat ia mencoba untuk bangkit. Ia tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri. Dalam keadaan terbaring ia melihat bekas-bekas luka cambukan memenuhi tubuhnya. Luka-luka itu semakin perih karena ia terbaring di atas pasir panas. Entah sekarang ia ada dimana. Ia tak sanggup mendongakkan kepala menatap langit. Karena matahari yang kini memanggang tubuhnya, terasa begitu sangat dekat dari dirinya.
Ray ingin menangis. Sakit yang ia rasakan benar-benar tidak bisa ia tahan. Belum lagi dengan bau anyir darah yang tercium dari luka-lukanya yang menganga. Perutnya mual, benar-benar mual. Ray bingung dengan apa yang terjadi padanya. Kenapa ia bisa berada di tempat ini? Padang pasir yang luas, dan tak ada seorangpun terlihat. Kenapa ia bisa begini? Kemana pakaiannya? Siapa yang telah menyiksanya dengan sedemikian rupa? Namun semua pertanyaannya itu tak terjawab. Terhanyut dalam sakit di sekujur tubuhnya, akhirnya Ray pingsan.

Ray kembali tersadar saat tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang mendekat. Perlahan matanya terbuka. Dan alangkah terkejutnya ia, melihat Rian berdiri menatapnya. Rian tersenyum.

“Sa… sayang…” lirih Ray dengan suara nyaris tak terdengar. Ray ingin menggapai wajah Rian, orang yang ia kasihi itu. Namun ia tak sanggup menggerakkan tangannya.

“Ray, aku sekarang bahagia!” Rian berseru riang. Seolah tak peduli dengan apa yang sedang Ray rasakan.

“Keputusanku yang aku ambil, untuk segera meninggalkanmu dan kembali normal itu ternyata tidak salah… aku justru mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat, Ray! Kau tidak percaya?? Gadis itu mau menikahiku… ahh, aku sungguh bahagia…” Rian tersenyum lagi. Benar-benar menyiratkan kebahagiaan. Ray mengerutkan kening. Bingung yang ada di kepalanya semakin kusut.

“Kau ingin tahu kenapa aku ada di sini, Ray? Hahaa… lihatlah Ray. Luka-luka yang sudah sembuh di tubuhku ini… hanya sebentar saja aku rasakan perihnya. Allah ternyata sungguh berbaik hati… dia mau mengampuniku yang benar-benar sudah kotor ini…”
Ray berusaha untuk memperhatikan Rian lebih seksama lagi. Keadaan Rian benar-benar jauh berbeda darinya. Rian berpakaian serba putih. Memang bekas luka masih terlihat di mukanya, tapi luka-luka itu sudah sembuh. Wajahnyapun bersinar teduh, bersih. Dan Rian sama sekali tidak berkeringat! Padahal di tengah padang pasir yang teramat panas ini. Ray semakin menemukan jalan buntu. Ia semakin bingung.

“Kau ingin bertanya bagaimana gadis itu, Ray?” Rian tersenyum, tersipu-sipu. Tanpa perlu menunggu jawaban dari Ray, Rian langsung bercerita.

“Mungkin memang bukan takdirku untuk menikahi gadis sesuci dia, Ray. Aku di jemput lebih dulu setelah hari pernikahanku di tetapkan. Yah, aku bersyukur. Setidaknya aku yang kotor ini tidak akan menodai gadis itu. Aku benar-benar bahagia, Ray! Sebelum aku mati… aku bisa merasakan cinta yang memang sebenarnya cinta… ya, aku benar-benar mencintai gadis itu…” mata Rian menerawang jauh, tapi senyum masih menghiasi wajahnya yang teduh.

“Dan ternyata, buah dari taubat itu sangat manis, Ray. Aku memang belum sempat merasakan sentuhan dari seorang gadis, tapi Allah menjanjikanku seorang bidadari disini, Ray… aku akan menjemputnya sekarang juga. Ia telah menungguku…” Rian mulai beranjak. Tanpa menanyakan keadaan Ray yang semakin tenggelam dalam sakit dan kebingungannya. Ray ingin menahan Rian agar jangan pergi, namun suaranya tak bisa lagi keluar. Akhirnya, Ray hanya bisa melihat Rian yang menjauh dengan linangan air mata.

“Tuhan??” hatinya bertanya pada nuraninya sendiri. Beberapa kali Rian menyebutkan nama Tuhan. Selama ini ia tidak pernah mengenal dengan Tuhannya. Walau ia yakin tuhan itu ada. Tanpa ia sadari, air matanya deras menganak sungai. Ray tergugu.

*  *  *  *  *

“Bip,bip… bip,bip… bip,bip…” alarm di Hp Ray berbunyi. Ray tersentak dan bangkit secara mendadak. Sesaat ia pusing, karena bangkit secara tiba-tiba. Di perhatikan keadaan di sekelilingnya. Dan ia lihat pakaiannya, juga tubuhnya. Tak ada luka sedikitpun. Tapi air matanya benar-benar meleleh.

“Huuffhhh… Cuma mimpi.” Desahnya lega. Sambil mengusap pipinya yang basah. Ia kembali duduk di atas sofa. Ray memegang kepalanya, mencoba mengingat-ingat mimpinya. Benar-benar mimpi yang mengerikan.

“Hahaa… Cuma mimpi. Syukurlah…” gumam Ray sembari tertawa. Iapun bangkit dari sofa, beranjak menuju kamar mandi. Hari ini dia punya janji dengan salah satu seniman di sini. Ia berjanji untuk menghadiri pameran lukisan yang dibuka temannya itu sejak dua hari yang lalu. Ray memang telah mengatakan pada para teman senimannya di kota ini, bahwa ia akan pindah rumah.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian,  Ray meraih kunci mobil yang telah lama tidak ia gunakan. Sebelum sampai di gedung pameran ia harus mencari sarapan terlebih dahulu. Perjalanan tadi pagi yang melelahkan membuatnya sangat lapar.

Pagi ini tampak lebih indah dari biasanya. Cerah, biru membahana. Lukisan kapas-kapas putih menghiasi biru itu. Bergerombol, membuat bentuk-bentuk aneh tak beraturan. Menambah elok paras langit hari ini.

Setibanya di sebuah kafe sederhana, Ray memilih kursi dekat dengan jendela. Ia ingin menikmati sarapan sembari menatap langit. Untunglah pelanggan yang datang masih sedikit. Ray jadi merasa bebas bersantai menikmati sarapan pagi. Sejenak ia bisa melupakan mimpi yang sedikit membuatnya takut itu.

Ray menyeruput kopi yang masih mengepul. Tubuhnya secara serentak merasa hangat. Tiba-tiba saja matanya berbenturan dengan sosok yang baru masuk ke dalam kafe. Ray mengernyitkan dahi. Mencoba mengingat-ingat wajah yang rasanya pernah ia kenal itu. Wajah mungil dengan bibir tipis kemerahan. Berkacamata, rambutnya berbalut kain berwarna biru muda. Wajah yang cerah, secerah pagi ini. Ray bukan mengagumi wajah jelita itu, bukan. Kalau sampai ia mengagumi hal-hal semcam itu, ia akan berpikir kalau ia sudah mulai tidak waras. Ia hanya merasa heran dengan wajah itu. Wajah yang rasanya menguak kenangan lama, namun tak jua berhasil di ingatnya.

“Siapa gadis itu?” tanya Ray dalam benaknya. Ia perhatikan gerak-gerik sang gadis. Yang mengeluarkan laptopnya sambil menunggu pesanan. Mungkin gadis itu akan menghabiskan beberapa jam di kafe ini. Gadis itu duduk tak jauh darinya. Berhadapan, tepat menghadap Ray. Sesekali menyeruput teh hangat yang baru di pesannya. Matanya tak lepas dari layar monitor, dan tangannya sibuk entah mengetik apa.

Tiba-tiba saja mata gadis itu bertemu dengan mata Ray. Ray gelalapan. Sedangkan gadis itu hanya kembali menundukkan kepala. Sebersit benci muncul di hatinya. Merasa bodoh karena telah memperhatikan seorang gadis. Tangannya menepuk-nepukkan kepalanya agak keras. Agar otaknya kembali dalam kewarasan yang biasanya. Ia kesal, karena gadis itu tahu ia memperhatikannya.

“Kau bodoh, ya??!” geram hatinya. Cepat-cepat ia menghabiskan sarapannya. Dan bergegas meninggalkan kafe menuju gedung pameran. Namun sayangnya, selama perjalanan menuju pameran, pikiran Ray belum lepas dari gadis itu. ia benar-benar merasa kalau ia pernah bertemu dengan gadis itu. Entah dimana. Semakin ia mencoba mengingat, semakin kuat kenangan itu memberontak. Ray membanting setirnya, berbelok berlawanan arah dengan tempat gedung pameran itu berada. Ada yang harus aku lakukan untuk kembali mewaraskan otakku, pikir Ray.

Mobil Ray berhenti di sebuah diskotik. Ia tahu, sepagi ini diskotik memang belum buka. Tapi ia merasa butuh pergi ke diskotik. Ia meraih telpon genggamnya, dan menghubungi seseorang. Ia mengenal pemilik diskotik ini, dan meminta untuk membukanya sekarang.

“Kenapa kau tiba-tiba kemari? Sampai minta bukain pagi-pagi begini… hooaahemm…” tanya pemilik diskotik itu setengah terkantuk. Ia memang tengah terlelap saat Ray menelponnya.

“Aku butuh beberapa gelas. Yang kadarnya rendah saja, aku tidak bisa mabuk pagi ini.” Jelas Ray serius. Walau pemilik tersebut sedikit heran, tapi tetap dipenuhinya juga permintaan Ray itu.

“Bagaiman kabar usahamu ini Jo?” tanya Ray saat ia mulai merasa nyaman. Jo medelik. Dan terkekeh.

“Hehe… kau tau sendiri kan, Ray. Membuka usaha night club ini benar-benar menguntungkan. Orang lebih banyak yang butuh kemari ketika sedang suntuk daripada ke mesjid! Ah, dunia memang sudah gila. Tapi itu menguntungkan aku.. haha..” tawa Jo lepas. Kantuknya nyaris hilang.

“Haha.. dasar kau otak bisnis. Aku mulai hari ini pindah ke kota ini. Jadi mungkin aku akan jadi pelanggan tetapmu mulai sekarang.” Ray kembali menenggak beberapa gelas.

“Oh ya? Kau sendiri? Bagaimana hubunganmu dengan Rian?” tanya Jo. Jo memang satu-satunya orang yang tahu tentang sifat binatangnya itu. Ray hanya tersenyum getir. Lalu menyeringai.

“Rian? Ah, aku tak kenal dia… haha. Hei, Jo. Kalau kau menemukan orang yang setipe denganku, beri tahu aku ya. Aku sedang butuh seseorang.” Ray menyeringai lagi.

“Hei,hei… kau menakutiku. Apa kau putus dengan Rian??” tanya Jo hati-hati. Ray hanya diam, menatap gelas-gelas dengan dingin.

“Ehm… baiklah. Aku akan mengabarimu kalau aku menemukannya.” Balas Jo lagi tanpa ingin merusak mood temannya itu.

“Tapi, apa kau tidak ingin mencoba perempuan?? Cobalah sekali-kali…. Hehe… kalau bertanya soal perempuan, aku punya banyak koneksi.” Canda Jo lagi. Ray menatap Jo tajam. Membuat Ray menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tahu, Ray itu walau memiliki kelainan, tapi kekuatannya tetaplah lelaki. Ia bisa habis jika macam-macam dengan sosok atletis itu.

“Sudahlah. Suasana hatiku sedang kacau. Jangan bercanda lagi.” Pinta Ray, tegas. Membuat hati pecundang Jo menjadi ciut. Ray mengambil kunci mobilnya, dan kembali melaju menuju pameran lukisan.

Sesampainya di sana, Ray kembali dikejutkan oleh sesosok gadis. Gadis yang pagi tadi ia lihat di kafe! Dan yang membuatnya bingung, gadis itu kini tampak sedang berdiskusi dengan Andrea, teman senimannya yang mengundangnya untuk datang itu. Ray enggan untuk menghampiri Andrea karena gadis itu. ia pun memilih untuk berkeliling sambil menunggu urusan gadis itu selesai. Ia tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi.
Satu jam sudah ia berkeliling, menikmati tiap-tiap lukisan Andrea. sesekali mengomentari di dalam hati, dan tak jarang ia berdecak kagum melihat lukisan-lukisan yang terpajang rapi di sepanjang koridor gedung. Andrea memang seniman berbakat! Pujinya dalam hati. Setelah ia merasa yakin bahwa gadis itu sudah tidak ada lagi, Ray pun mencari Andrea. dan tidak sulit menemukan pemilik pameran ini yang sepanjang hari selalu diikuti oleh wartawan-wartawan lokal.

“Ehem.” Ray berdehem. Andrea menoleh.

“Oh, hai! Ray… waah… akhirnya yang aku tunggu datang juga. Kenapa baru datang?  Kau ini benar-benar senang membuat orang menunggu ya?” sapa Andrea hangat. Ray menjabat tangan sahabatnya itu sambil tersenyum.

“Haha… aku sudah tiba sejak satu jam yang lalu. Tapi tadi aku lihat kau sedang asyik berdiskusi dengan seorang gadis. Aku takut mengganggu. Jadi ya… aku berkeliling dulu. Waah, aku salut! Aku akui aku masih kalah dengan lukisan-lukisanmu! Hehe…”

“Seorang gadis? Fira maksudmu?” tanya Andrea.

“Eh? Ah… entahlah. Entah gadis yang mana. Hehe. Lagipula, siapa tahu sedari tadi seniman tampan kita ini sudah berkali-kali mengobrol dengan gadis yang berbeda. Mana aku tahu gadis yang mana. Hehe…” canda Ray.

“Ah, kau ini bisa saja Ray. Kalau yang sejam lalu mengobrol denganku itu namanya Shafira Afifah.”
‘Deg’. Tiba-tiba saja jantung Ray berdegup. Nama itu… ah, benarkah gadis itu??

“Hei, Ray. Kau kenapa?” Andrea menyadarkannya dari lamunannya.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa… siapa tadi? Fira? Ada perlu apa ia datang kemari?” tanya Ray berbasa-basi. Walau sebenarnya ia sama sekali tidak ingin membahas tentang gadis itu lebih panjang.


“Dia datang kemari untuk mengamati hasil karya-karyaku ini. Fira itu adik kelasku waktu kuliah di London. Dia seorang pengamat seni, namanya cukup dikenal dikalangan pelukis. Masak kau tidak kenal?”
Ray menerawang. Pelan-pelan ia mulai bisa mengingat gadis itu. Nama gadis itu memang pernah terpatri dalam memorinya. Kenangan disaat umurnya sembilan tahun, kembali berkelebat.

Saat itu hujan deras. Ia terkurung diluar pagar bersama lukisan-lukisannya yang mulai basah. Wajahnya lebam membiru, habis dipukuli oleh ibunya sendiri. Ia mendekap kedua lututnya, sambil berharap lukisannya tidak basah. Ia ingin menangis, tapi airmata itu sudah kering.

Tiba-tiba saja ada seorang anak perempuan memayunginya. Ya, gadis kecil berjas hujan biru langit. Gadis kecil itu tersenyum, bibir tipisnya yang kemerahan menambah cantiknya wajah putih itu. bidadari menolongku, itu pikirnya saat itu. ia baru pertama kalinya melihat gadis kecil itu. Mungkin gadis itu  masih kelas satu SD saat itu.

“Kenapa abang hujan-hujanan di luar?” tanyanya polos. Ray hanya terdiam, tak sanggup untuk menjawab. Ia mendekat, merogoh saku jasnya yang ternyata berisi sebungkus kue bolu. Tanpa ragu ia memberi Ray kue itu. perut Ray yang merintih tak sanggup menolak.

“Namaku Shafira Afifah. Nama abang siapa? Kenapa abang hujan-hujanan?” bidadari itu memperkenalkan diri. Lagi-lagi Ray hanya diam. Hanya menatap wajah bocah jelita itu. sambil sesekali menyeka air hujan yang membasahi wajahnya.

“Ini apa bang?” tanyanya sambil meraih bungkusan-bungkusan lukisan yang dipegang Ray. Ray membiarkannya gadis kecil itu melihat hasil karyanya. Dibawah payung biru, gadis itu memperhatikan lukisan Ray dengan seksama.

“Waaaah… bagus sekali bang! Abang sendiri yang buat? Abang hebat ya. Aku juga suka ngegambar. Tapi belum sebagus ini. Hehe…”

‘Tes….’ Ada setetes kehangatan yang ia rasakan kala itu. gadis itulah yang pertama kali memuji karyannya. Ray pun menyunggingkan senyumnya.

“Firaaa…. Cepat pulang. Hujan semakin lebat.” Suara seseorang memecah hujan di ujung jalan. Ray melihat seorang ibu muda membawa payung besar. Fira pun bergegas hendak pergi.

“Iya, Maa…. Eh, bang. Ini boleh buat aku? Boleh ya? Boleh dong…” pintanya dengan memohon. Seolah lukisan itu adalah lukisan berharga yang sangat diinginkannya. Ray trenyuh, dan hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu memekik girang, dan kemudian berlari menghampiri ibunya. Berlari di tengah hujan. Dan itulah kali terakhirnya Ray melihat ada hati bidadari di seorang perempuan. Ya, dari seorang gadis kecil yang periang itu.

Tiba-tiba saja Ray tersadar. Kenangan itu kini benar-benar kuat dalam ingatannya. Kenapa ia sampai lupa dengan kebaikan bidadari kecilnya itu? dan mencap perempuan sebagai iblis. Hati Ray tergugu, ia merasakan kerinduan yang mendalam secara tiba-tiba.

“Satu hal yang aku herankan dari Fira itu Ray. Sampai sekarang ia masih sendiri. Setiap istriku ingin memperkenalkan seseorang padanya, ia menolak halus. Katanya, ia masih menunggu seseorang. Ya, seseorang yang membuatnya terjun dalam dunia seni, katanya. Entah siapa itu. kalau aku bertemu dengan lelaki itu, aku akan menghajarnya. Teganya dia membuat gadis sejelita Fira menunggu terlalu lama. Hehe…” jelas Andrea dengan nada bercanda. Tapi penjelasan itu seolah-olah menohok hati Ray.

“Beri aku alamat rumahnya, Dre!” pintanya.

“Eh? Kenapa?” Andrea bingung.

“Aku. ya, mungkin aku lelaki itu dre… tolong, beri aku alamatnya!” desak Ray lagi. Andrea terbelalak. Dan tanpa ragu memberikan alamat Fira pada Ray. Ray kembali melesat dengan mobilnya. Ia berpacu dengan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.

Ray membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rindu yang ia rasakan membuncah-buncah. Dalam waktu sekejap ia dibuat kembali normal oleh seorang gadis. Ya! Bahkan Ray seolah terlupa dengan kebusukannya selama ini. Kebusukannya sebagai seorang Gay. Tanpa sadar, ia tidak melihat ada motor yang menyalipnya dari sisi kiri. Ray terkejut, dan membanting setirnya kearah kanan. Naas, sebuah truk menantinya di sisi kanan. Dan kecelakaan itu terjadi tanpa terelakkan.

Mata Ray buram. Lama kelamaan pandangannya semakin samar. Terdengar suara orang yang berteriak panik.  Kenangan-kenangannya membayang di pelupuk mata. Saat-saat ia kotor menjadi gay, wajah Rian yang tegas meminta putus, luka-luka cambukan yang menganga, terik matahari yang panas, wajah mungil berbibir tipis kemerahan, dan tawa seorang bidadari kecilnya. Semuanya berputar tak beraturan dalam kepalanya. Terngiang pula kata-kata teduh Rian dalam mimpinya…“Dan ternyata, buah dari taubat itu sangat manis, Ray. Aku memang belum sempat merasakan sentuhan dari seorang gadis, tapi Tuhan menjanjikanku seorang bidadari disini, Ray… aku akan menjemputnya sekarang juga. Ia telah menungguku…”

“Tuhan, ampuni aku… aku ingin kembali… Aku mencintainya…” lirih Ray terisak.
Dan seketika, semuanya terasa gelap bagi Ray. Senja yang indah keemasan, tersenyum, menemaninya dikala terakhir. Telah lama ia dirindukan…
Read More »»

Ramadhan dan Agustus

Kicauan burung menghiasi pagi ini. Gemercik air sungai, menambah syahdunya alam. Angin sejuk sepoi-sepoi menghembus, terdengar dedaunan yang saling bergesek. Senandung alam yang merdu. Damai, tentram. Luntur sudah semua kepenatan hidup. Terlupakan sejenak, dengan rasa damai yang menjalar keseluruh pori-pori tubuh. Seseorang memejamkan matanya, sambil merentangkan tangan berdiri diatas sebuah batu di sungai. Menghirup udara yang segar, sambil tersenyum.

“Pagi yang indah ya, Ram…” ujarnya pada seorang temannya yang terduduk di tepi sungai, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kini ia menurunkan kakinya setengah betis ke dalam sungai. Air yang segar mengejutkan seluruh sel-sel syaraf dalam otaknya.

“Ya, tapi tidak bagiku Gus…” tanggap Ramadhan, sambil menghela nafas panjang, serasa ingin melepas semua beban yang memberatkan hatinya, menganggu pikirannya. Agustus mendelik heran.


“Apa yang membebanimu, sobat?” Tanya agustus pada sahabatnya itu. Ramadhan hanya mendesah pelan. Ia pun akhirnya menghampiri Ramadhan, duduk di batu yang lebih dekat dengannya.

“Ceritalah… mungkin aku bisa membantu?” Tanya agustus sekali lagi.

“Aku yakin kau tidak bisa membantuku, Gus…” Ramadhan memperhatikan riak-riak sungai dengan tatapan kosong.

“Hmm, setidaknya dengan bercerita akan mengurangi bebanmu. Ceritalah…” bujuk Agustus lagi.

“Hufft. Aku takut Gus. Aku takut kalau-kalau laporanku tahun ini mengecewakan lagi.” Agustus mengerutkan kening.

“Laporan?”

“Ya… Laporanku. Kau enak, Gus… setidaknya laporanmu tidak mengecewakan seperti laporanku.” Ramadhan berdiri, menginjakkan kakinya di sungai. Ia pun mencari batu yang nyaman untuk diduduki.

“Apa yang membuat laporanmu mengecewakan? Memangnya laporanmu tahun lalu mengecewakan?” Tanya Agustus lagi.

“Ya, sangat. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali laporanku tidak mengecewakan…” Agustus hanya diam, menunggu tiap kata dari sahabatnya itu.

“Kau pasti tau kan, banyak manusia yang tercatat beribadah dalam laporanmu tahun lalu?”

“Ya, banyak sekali. Bahkan hampir semua manusia yang mengikuti agama kita tercatat beribadah dalam laporanku. Hal itu membuatku senang.” Jawab Agustus sembari tersenyum, mengingat laporannya tahun lalu.

“Tapi tidak dalam laporanku… nyaris kosong, Gus. Ya.. Nyaris kosong. Bahkan banyak manusia yang melakukan maksiat yang tercatat dalam laporanku tiap tahunnya.” Ramadhan tertunduk dalam, hal ini benar-benar membuat hatinya perih.

“Hmm? Apa maksudmu? Bukankah dalam laporanmu banyak orang yang berpuasa? Seharusnya itu nilai plus bukan? Seperti laporanku…”

“Ya, mereka semua berpuasa. Tapi puasa tinggallah sekedar puasa bagi mereka. Setelah bulan puasa berlalu, apa yang berubah dari mereka, Gus? Apa? Nihil. Nyaris semuanya sia-sia.” Agustus tertegun.

“Kenapa begitu?”

“Mereka puasa bukan karena ikhlas Gus… bukan karena Allah. Banyak di antara mereka menjadikan puasa hanya sebagai rutinitas setiap tahunnya, tanpa hati. Mereka puasa, tetapi hati mereka tidak dipuasakan. Mereka berlapar-lapar dahaga, tetapi nafsu mereka kenyang-kenyangkan!”

“Puasa bagi mereka hanya sebagai identitas. Identitas?? Ya, hanya identitas belaka, Gus… Hanya sebagai bukti kalau agama islam dalam KTP mereka itu benar…”
Agustus masih menatap Ramadhan dengan tatapan heran. Masih tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan sahabatnya.

“Bukankah mereka semua melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya, Ram? Dalam laporanku, sungguh ramai mesjid-mesjid dengan manusia pada malam hari. Karena bertepatan pula dengan jadwal kerjamu.”
Ramadhan menatap Agustus dengan sendu.

“Ya, Gus… memang benar mereka shalat tarawih, memang benar mereka meramaikan mesjid. Tetapi banyak hati mereka yang salah niat. Mereka jadikan ajang memamerkan diri! Agar terlihat oleh tetangga mereka kalau mereka itu rajin ibadah… taat agama. Mereka shalat, tetapi dengan hati yang sombong. Ada pula yang menjadikan shalat tarawih itu hanya sebagai kewajiban. Ya, kewajiban semata! Bukan karena mereka butuh akan shalat itu sendiri.”

“Khususnya anak-anak remaja, Gus… sungguh perih hati ini melihat mereka yang menodai mesjid. mereka pergi ke mesjid, tetapi bukan untuk tarawih, bukan untuk meramaikan mesjid dengan semestinya. Mereka malah menjadikan mesjid itu untuk tempat mereka berkumpul-kumpul dengan temannya. Atau hanya sebagai alasan mengambil absen ke mesjid. Kau tahu bukan, dalam bulanku ini anak-anak remaja mengikuti pesantren ramadhan, yang mewajibkan mereka untuk tarawih di mesjid?”

“Ya, Ram… itu tercatat dalam laporanku tahun lalu…”

“Hanya karena itulah mereka melakukan shalat itu, Gus… bagaimana aku tidak sedih??” nyaris saja Ramadhan tidak bisa menahan air matanya. Dadanya sudah terasa sangat sesak.

“Lalu, bagaimana dengan infak dan sedekah mereka selama itu, Ram? Bukankah mereka bersedekah?” Tanya agus lagi dengan hati-hati. Kini ia mulai mengerti, dan mulai bisa merasakan apa yang melanda hati sahabatnya itu.

“Sama saja! Sama saja, Gus… ajang menyombongkan diri. Atau ajang sekedar asal-sudah-berinfak saja. Banyak sekali yang justru bukan karena ikhlas. Aku tidak mengerti Gus, kenapa dengan manusia sekarang??”
Agus hanya terdiam. Ia benar-benar tidak tahu semua tentang itu. Yang ia tahu, dan yang ia catat dalam laporannya hanyalah apa yang tampak olehnya secara kasat mata.

“Jangan pula kau tanyakan tentang ibadah-ibadah lainnya, Gus… jangan! Karena semuanya sama saja. NIHIL. Semua yang mereka lakukan itu tidak mengubah apapun. Tidak mempengaruhi mereka sedikitpun. Setelah berpisah mereka dengan bulanku, mereka kembali seperti semula. Kembali jahili! Bukannya kembali menjadi fitri kembali…”

“Itu semua karena mereka sudah kehilangan iman, Gus…. Mereka tidak menyadari ada kekuasaan di atas sana yang selalu mengawasi mereka. hiks” Kali ini hancur sudah pertahanan Ramadhan. Buliran-buliran air hangat menganak sungai di pipinya. Agus hanya bisa menepuk-nepuk pundak Ramadhan dengan lembut. Pikirannya ikut berkecamuk. Tidak menyangka dengan ini semua.

“Mereka tidak tahu, Gus… atau mereka sengaja membutakan mata hati mereka. Mereka tidak peduli akan mulianya bulanku, gus… betapa Rabb kita sudah banyak menjanjikan kebaikan yang berlipat ganda untuk mereka… tetapi mereka tidak peduli.”

“Mereka isi bulanku dengan kesia-siaan. Dengan maksiat! Mereka menodai bulanku dengan tanpa rasa bersalah, Gus… hiks.”
Untuk beberapa saat mereka saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara riak-riak sungai yang memecah keheningan diantara mereka. Angin memang sepoi-sepoi bertiup, tetapi badai sedang melanda hati mereka berdua.

“Aku benar-benar tidak tahu akan itu, Ram…” Agustus kembali membuka suara. Ramadhan terdiam sejenak, lau menghela nafas…

“Ya, Gus… kau memang tidak tahu. Kita membuat laporan dengan pengamatan yang berbeda bukan? Laporanmu kelaklah yang nantinya akan membuktikan kemunafikan mereka itu, Gus…”

“Jadi, laporanmu yang tahun lalu-kah yang membuatmu merasa terbebani seperti ini?” Tanya Agustus lagi.

“Hmmhh… bukan, Gus. Justru laporanku selanjutnya. Aku takut akan mengecewakanku kembali. Aku takut mereka justru menambah noda dalam laporanku ini. Aku sedih…”
Agustus terdiam lagi.

“Akh, tetapi ada diantara mereka yang membuatku terhibur, gus.” Ujar Ramadhan lagi, wajahnya terlihat lebih cerah. Tanpa Agustus bertanya ‘siapa mereka’ pun, Ramadhan kembali bercerita.

“Mereka yang berpuasa karena memang hatinya yang menginginkannya gus, mereka yang ikhlas sepenuh hati mengisi kebaikan-kebaikan dalam bulanku. Beribadah karena Rabb mereka. Mereka yang merindukanku selama sebelas bulan sebelum bulanku datang. Mereka yang benar-benar mempuasakan hati dan nafsunya. Ya, mereka… walau mereka hanya sedikit Gus, tapi mereka bisa menghiburku. Cukup mengobati hatiku.” Ramadhan tersenyum.

“Semoga mereka yang menyenangkan hatimu itu, jumlahnya semakin bertambah kali ini, Ram…” tanggap Agustus lagi.

“Ya, semoga Gus… dan kuharap laporanku selanjutnya tidak mengecewakanku lagi. Walau… ahh, tidak mungkin rasanya. Manusia sekarang sudah benar-benr berbeda Gus. Sudah banyak yang melupakan Rabbnya…” balas Ramadhan lagi.

Beberapa ekor burung terbang rendah, nyaris menyentuh air sungai. Kicauan merdunya menentramkan hati. Benarlah kata Agustus, dengan bercerita, bisa untuk mengurangi beban di hati Ramadhan. Walau begitu, Ramadhan tidak bisa menghilangkan resah di hatinya. Ia benar-benar takut dan sedih. Percakapan itupun berlanjut. Banyak hal yang mereka bicarakan. Tanpa terasa, matahari pun sudah meninggi…
Read More »»