Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

belum tentu!


Belum tentu! Belum tentu mereka yang berjilbab dalam lebih baik daripada mereka yang baru-baru belajar berjilbab.

Belum tentu mereka yang begitu menjaga pandangan lebih baik daripada mereka yang baru-baru mengerti tentang hijab.

Belum tentu mereka yang punya banyak kontribusi dalam dakwah lebih baik daripada mereka yang baru saja melangkah.

Belum tentu mereka yang qiyamnya rutin lebih baik daripada mereka yang baru belajar disiplinkan shalat yang lima waktu.

Belum tentu mereka yang suaranya indah saat mengaji lebih baik daripada mereka yang masih terbata-bata melafadzkan huruf-huruf al-qur’an.

Belum tentu mereka yang menutup telinga dari lagu-lagu non religi lebih baik daripada mereka yang baru saja mengenal nasyid.

Belum tentu mereka yang anti pacaran lebih baik daripada mereka yang baru saja memahami cinta karena Allah.

Belum tentu!
belum tentu dirimu yang ibadahnya banyak bisa lebih baik dari mereka yang baru saja belajar shalat. Belum tentu dirimu yang sering puasa sunnah bisa lebih baik dari mereka yang puasa wajibnya pun masih bolong-bolong. Belum tentu dirimu yang banyak menghafal al-qur’an bisa lebih baik dari mereka yang baru saja belajar membacanya. Belum tentu semua kebaikanmu di dunia bisa menjaminmu langsung masuk surga, dan belum tentu mereka yang sedikit sekali amalnya di dunia sudah dipastikan masuk neraka. Adakah jaminannya?

Banyak beribadah, banyak mengerti ilmu agama, menjadi aktifis dakwah, belum tentu menjadikan diri kita lebih suci dari yang lain. hingga terkadang ada saja hawa kesombongan masuk memenuhi hati. Merasa diri ‘lebih baik’ karena lebih banyak hafalan qur’an-nya. Merasa ‘lebih baik’ karena luas wawasan islaminya. Merasa ‘lebih baik’ karena bisa berkontribusi lebih banyak dalam dunia dakwah. Dan hal-hal baik lainnya yang membuat diri terkadang merasa ‘lebih baik’ dari orang-orang sekitar yang ibadahnya masih tersendat-sendat.

Tahukah kamu bahwa setan sudah berjanji tak akan pernah tidur hingga manusia semuanya bisa tersesat? Dengan segala cara mereka gunakan untuk merendahkan derajat kita di hadapan penghuni langit. Menghasut hati-hati manusia agar ingkar pada Rabb yang menciptakannya. Menarik manusia agar berbelok dari jalan yang lurus.

Ketika setan sudah merasa tak bisa lagi mengajak kita untuk lalai dari beribadah. Tak bisa lagi mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam dakwah. Maka saat itulah setan menggunakan celah terakhirnya untuk meluluhlantakkan semua pertahanan ibadah yang sudah kita lakukan. Celah yang sempit, namun ketika setan berhasil masuk lewat celah itu, habislah sudah ‘nilai’ kita di hadapan langit. Celah kesombongan. Dari satu benih kesombongan yang setan semai di hati kita, maka hancurlah semua pohon-pohon amal yang sudah lama kita rawat. Tak bernilai, berbalik malah memberatkan timbangan dosa. Na’udzubillahi mindzalik...

Karena siapa tahu, mereka yang baru saja mengerti islam memiliki hati yang lebih bening daripada kita. Karena siapa tahu, mereka yang baru saja tobat karena segunung dosa, memiliki rasa takut pada Allah yang lebih besar daripada kita. Karena bisa jadi, justru merekalah yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi di mata Allah daripada kita. Hanya Allah yang berhak menilai keimanan manusia, bukan kita.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia(karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Luqman : 18)

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”( QS. Al-Isra’ : 37)

Lalu, masihkah kita merasa lebih baik? Lebih suci?


Read More »»

Sabtu, 27 November 2010

mencintai sejantan ‘Ali (salim a.fillah)


kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-



Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..


July 9, 2008 by salim-a-fillah
http://salim-a-fillah.blog.friendster.com/2008/07/mencintai-sejantan-ali/
Read More »»

Jumat, 26 November 2010

Istighfar Kita Masih Butuh Istighfar

Seorang yang shaleh pernah berkata : “Istighfar kita ini masih memerlukan istighfar”. Maksudnya, apabila seseorang mengucapkan istighfar, namun dia tidak meninggalkan maksiat yang diperbuatnya, maka istighfarnya itu masih butuh istighfar.

Sering kita temui, orang berisitghfar hanya dengan lisan mereka saja. Tidak disertai dengan kesungguhan hatinya. Mereka mengucapkan lafadz “Astaghfirullah” namun ucapan tersebut tidak mempengaruhi akhlaknya. Masih dan tetap saja melakukan maksiat tersebut. Dan sadarilah, bahkan terkadang kitapun termasuk kedalamnya…
*Astaghfirullah… >_<


Memang tak ada manusia yang tak pernah khilaf. Tidak ada manusia yang catatan amalnya benar2 bersih dari perbuatan dosa. Hal itu terjadi karena terkadang manusia kalah melawan musuh2nya. Ada banyak hal di dunia ini yang menjadi musuh sebenarnya bagi manusia. Diantaranya adalah nafsunya yang mendorongnya untuk melakukan maksiat dan menjauh dari jalan Allah. Musuhnya yang lain adalah setan, musuh yang tak akan pernah bisa membiarkan manusia melakukan amalan2 ibadah. Musuh yang akan selalu menggoda manusia sampai ajal dunia menjelang. Selain itu, musuh manusia pun bisa berupa keinginan2 yang menjauhkan diri dari jalan Allah. Dan masih ada dunia dan isinya yang seringkali menjerumuskan manusia dalam kebinasaan. Dan masih banyak lagi, yang kesemua itu harus kita perangi.

Dalam hadist, Rasulullah saw. Bersabda :

“Setiap manusia pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.”

Pada hakikatnya, istighfar itu merupakan salah satu nikmat yang besar yang Allah berikan kepada orang2 beriman. Karena hanya dengan mengucapkan istighfar, dan disertai hati yang bersungguh2, dosa2 yang kita lakukan akan terhapus. Orang2 beriman mendapatkan keistimewaan dengan istighfar ini, karena hanya orang beriman sajalah yang boleh mengucapkannya. Namun seiring dengan pertambahan usia bumi, makna istighfar kini hanya menjadi ucapan di lisan belaka.

Fudhoil bin ‘Iyadh berkata, “Istighfar yang tidak disertai dengan berhenti dari dosa, adalah taubatnya para pembohong.”

Untuk itulah, kita yang dianugrahkan Allah menjadi orang2 yang beriman kepadaNya, harus benar2 mengistighfarkan diri dengan istighfarnya orang2 yang beriman. Bukan sekedar di lisan, namun juga hati kita. Dimana disaat beristighfar, kita mengucapkannya dengan niat betul2 untuk bertaubat. Sehingga kita benar2 mendapatkan ampunan dariNya.

Ada banyak waktu yang dianjurkan untuk kita beristighfar. Diantaranya adalah :
  • Setelah melaksanakan ibadah.
Saat shalat, terkadang kita melakukan kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaannya. Untuk itulah kita beristighfar. Nabi Muhammad saw, sesudah salam dari shalat wajib, biasanya beristighfar tiga kali.
  • Di waktu sahur.
Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Qs. Ali ‘imran :17)
  • Ketika menutup majelis.
Dalam bermajelis, tidak jarang kita melakukan kesalahan. Baik itu pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karena itulah, ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk beristighfar. Karena Allah maha mengetahui apa yang kita lakukan dalam majelis, namun kita tak menyadarinya.
  • Istighfar untuk orang2 yang meninggal.
Nabi Muhammad saw, apabila selesai menguburkan mayat, beliau bersabda :
“Beristighfarlah kalian untuk saudara kalian dan mohonkanlah keteguhan untuknya, sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.”

Saat ditanyai dalam kubur, seorang mayit sangat membutuhkan istighfar dari saudara2nya untuk meringankan bebannya dan agar mendapatkan ampunan dari Allah.

Ada empat hukum yang berkaitan dengan istighfar, yaitu :
  • Mundub/sunnah. Dimana istighafr ini dilakukan bukan hanya apabila melakukan maksiat. Tapi bisa disetiap saat. Bisa dilakukan untuk diri sendiri, orangtua, saudara, anak atau istri. Seperti firman Allah dalam surat al-muzzammil ayat 20 : “…dan mohon ampunlah kepada Allah. Sungguh Allah Maha pengampun dan Maha penyayang.”
  • Wajib. Istighfar menjadi wajib hukumnya bagi orang2 mukmin yang telah melakukan dosa. Dosa sekecil apapun, akan dicatat oleh malaikat dalam catatan amal kita. Karena itu, kita diwajibkan untuk bersegera beristighfar setelah melakukan dosa. Agar kita mendapat ampunanNya, dan dosa dalam catatan amal kita dihapuskan.
  • Makruh. Seperti beristighfar dibelakang jenazah. Hal ini dimakruhkan karena rasulullah tidak pernah melakukan ini. Yang dianjurkan adalah beristighfar untuk jenazah saat menshalatkannya dan memakamkannya.
  • Haram, apabila seorang mu’min beristighfar untuk orang yang kafir. Seperti Rasulullah yang diharamkan untuk memohonkan ampunan bagi paman beliau. Seperti yang difirmankan Allah :
“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang2 fasik.” (Qs. Al-Munafiqun : 6)

Buah dari istighfar…
Allah menjanjikan buah yang manis dari istighfar yang kita tanam. Ada banyak bentuk dan macamnya manfaat istighfar yang dapat kita rasakan dalam keseharian. Diantaranya yaitu :
  • Allah mengampuni dosa2 orang yang memohon ampun kepadanya. Hal ini tercantum dalam firmannya:
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatn dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Penganmpun lagi Maha Penyayang.” (An-nisa’ : 110)
  • Salah satu faktor pembawa rezeki. Rasulullah saw. Pernah bersabda dalam hadistnya :
Brangsiapa yang banyak beristighfar, niscaya Allah memberikan kelapangan baginya dari setiap kecemasan, jalan keluar dari setiap kesempitan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Di dalam hadist ini Rasulullah mengatakan bahwa salah satu buah dari istighfar itu adalah rezeki dari Allah. Rezeki yang arahnya tidak pernah disangka-sangka dan tidak pernah terpikirkan dalam pikiran manusia. Untuk itu, ketika kita ingin mendapat kelapangan rezeki dan berkahnya, perbanyaklah istighfar. Tentu saja, istighfar yang sebenar-benarnya isitighfar.
  • Jalan menuju ke surga.
Dengan di ampuninya dosa2, maka pintu menuju surga akan terbuka. Kita akan diperbolehkan untuk memasuki surgaNya dengan beristighfar. Asalkan seumur hidup kita tetap menjadi orang yang beriman.
  • Sarana memperoleh kesehatan dan kekuatan.
“Dan (dia berkata), ‘Hai kaumku, mohonkanlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Al-Hud : 52)
  • Sarana memperoleh kebersihan hati.
Satu dosa akan menorehkan satu noda di dalam hati kita. Karena tiu, dengan beristighfar, noda2 tersebut akan terhapus dan hati kita kembali bersih.
  • Mencegah terjadinya adzab.
Seperti yang dikatakan oleh Hasan Basri, “Wahai manusia, meninggalkan dosa itu lebih mudah bagimu daripada bertaubat.” Istighfar merupakan sarana bagi kita untuk mencegah adzabNya. Seperti yang di firmankan oleh Allah :
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah(pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal : 33)
  • Meningkatkan derajat setelah mati.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda…
“Sungguh Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Maka, kelak ia akan bertanya. ‘Ya Rabbi, mengapa saya meraih derajat seperti ini?’ Allah menjawab, ‘Karena istighfar yang dipanjatkan anakmu untukmu!” (diriwayatkan oleh Abu Hurairoh).

Karena itulah, kita sebagai seorang anak harus memperbanyak doa untuk orangtua kita. Agar beliau mendapatkan tingkat derajat yang lebih tinggi di sisi Allah, dan mendapatkan kelapangan. Sehingga, seperti itu pula lah anak kita kelak.

Dan masih banyak lagi buah yang bisa kita petik dari istighfar. Yang masing-masing orang akan berbeda buahnya.
Wahai saudara-saudariku… mari kita bersama memperbaiki istighfar kita. Agar istighfar itu bukan hanya menjadi pembasah lidah. Tetapi juga sebagai cahaya kita di surga kelak… amiin…  :)

Read More »»

Jadilah Generasi Ghuraba’

Ada yang udah tau apa artinya ghuraba’ belum?
Hmm… zhr sendiri ga tau pasti sih, apa arti kata ini secara istilah. Tapi dalam bahasa, kata ghuraba’ bisa berarti asing. Atau mungkin bisa juga di sebut aneh. Aneh karena lain daripada yang lain.

Hah? Terus, judul di atas tadi nyuruh kita buat jadi generasi aneh dong? Kok gitu?



Hehe… bukan itu maksudnya. Nih, ada kutipan hadist yang pernah zhr denger:
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang yang diasingkan “ (HR. Muslim, At Tirmizi, Ibnu Majah, At Tabarani).
Ehem2. kita coba untuk ngebahas hadist ini lebih serius. :)
Islam bermula dalam keadaan asing…

Kita semua pasti tau, bagaimana panjang dan sulitnya perjuangan nabi Muhammad saw dalam menegakkan agama Allah. Banyak sekali mengalami rintangan dan ujian. Dengan lemah lembutnya beliau berusaha untuk mengajak mereka (kafir Quraisy) ke jalan islam, tapi malah di hadiahi dengan umpatan, makian, air ludah bahkan kotoran unta. Kenapa demikian? Hal itu karena terlalu mendarah dagingnya ajaran nenek moyang kafir Quraisy pada masa itu. Sehingga agama islam terasa amat asing bagi mereka.

Sesuatu yang asing, tentulah tidak mudah untuk cepat di terima. Tubuh kitapun, jika ada benda asing yang masuk, pasti akan memberikan reaksi waspada dan hati-hati terhadap benda asing itu. Begitu pula islam, yang amat teramat asing pada masa-masa itu. Berbeda aturan, berbeda cara, berbeda pandangan dan pikiran, berbeda hukum, bahkan berbeda illah dengan ajaran agama Quraisy waktu itu. Butuh proses panjang dan rencana matang untuk merubah keasingan itu menjadi biasa. Dan seperti yang kita tahu, dakwah rasulullah itu tidak singkat, bahkan bertahun-tahun. Orang akan lebih mudah menerima apa yang memang sudah biasa di lingkungannya.

Jadi,, apa hubungannya dengan sekarang? Kenapa islam dikatakan asing sih?
Hmmhh…. sekarang, mari kita sama2 memperhatikan. Bagaimana kondisi islam saat ini. Naas bukan? Banyak sekali orang yang mengaku dirinya islam, namun bertingkah laku selayaknya bukan islam. Banyak orang yang mengaku bersyahadat, namun kenyataannya sama sekali tidak bertanggung jawab dengan syahadat yang diucapkannya itu. Dan ini terjadi hampir di semua golongan masyarakat. Para pemimpin banyak yang korupsi, para hakim banyak yang tidak adil. Mereka yang merasa memiliki kekuasaan tak pernah berpikir, bahwa harta2 yang mereka nikmati dari hasil korupsi itu adalah tangis darah masyarakat kecil. Rumah mewah mereka bangun, di sisi lain banyak anak tak mampu bersekolah harus mengorbankan cita2nya…

Bagaimana dengan kalangan pelajar??
Ayolah teman2,, kita semua sama2 mengetahui. Bahwa contekan2 kecil saat ujian itu semakin lama akan mendidik kita menjadi koruptor masa depan. Sebagai penerus mereka2 yang memakan harta haram disana. Banggakah kita menjadi penerus mereka??
Betapa batunya hati kita kalau kita berbangga diri akan hal itu.
Begitu banyaknya maksiat yang dilakukan orang2 sekarang. Dan akuilah, kita pun terkadang masuk dalam golongan tersebut. Hal2 yang mendekati zina, bertebaran dimana-mana. Hal2 yang mengumbar aurat banyak sekali kita temukan. List daftar anak2 yang durhaka kepada orang tuanya pun semakin panjang. Para orangtua yang semakin tak peduli akan amanahnya terhadap anak pun tak kalah banyaknya. Sungguh mengenaskan! Betapa rasul kita, Muhammad saw. menangisi kita, takut karena kita tak akan kuat merasakan adzabNya.

Dan lihatlah….
Perempuan2 shalihah yang menjaga auratnya semakin sedikit dibandingkan dengan umat di dunia ini. Para lelaki shaleh, para pengemban amanah sebagai pemimpin yang adil semakin berkurang… mereka yang tetap teguh memegang ajaran agama islam, berusaha menjalankan kewajiban sebagai makhlukNya, bersusah payah menahan diri dari segala yang dilarangNya, lebih sedikit jumlahnya dibanding mereka2 yang tak tahu apa tujuan mereka diciptakan dibumi ini…
Merekalah generasi ghuraba’…

Generasi yang di akhir zaman semakin sedikit jumlahnya. Semakin terasa asing. Semakin di anggap aneh oleh orang2 sekitar. Aneh? Kenapa aneh? Ya…. terkadang orang menganggap aneh kepada perempuan2 yang konsisten dengan jilbabnya, terkadang memandang aneh dengan laki-laki yang menolak bersalaman dengan yang bukan mahramnya, memandang aneh kepada pemimpin yang tak mau menerima uang sogokan. Aneh, karena ajaran2 islam kini semakin asing. Aturan2 islam semakin di tinggalkan.

Aneh, itu kata mereka yang mengaku islam namun tak mengenal agamanya sendiri!

Wahai teman2ku…
Janganlah malu kita menjadi orang2 aneh di hadapan mereka. Janganlah kita enggan mengenalkan jati diri kita sebagai seorang muslim!… jadilah kita generasi ghuraba’…
Generasi yang di anggap asing, karena hidup dengan berjalan sesuai dengan aturanNya.
Generasi yang akan mendapat keberuntungan di akhirat kelak….

Dengan berusaha berjalan lurus mengikuti jalanNya. Berusaha dan selalu berusaha mencari hidayahNya. Bukan dengan menjauh dan semakin meninggalkanNya. Kenalkan pada mereka bagaimana islam itu sebenarnya. Islam itu agama yang suci, dan mereka telah mengotori agamanya sendiri. Mereka? Siapa mereka? Yaitu orang2 yang tak mau mengenal agamanya sendiri, tidak ingin mengenal penciptanya sendiri.
Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan2 yang tidak di ridhai oleh Allah…
Amiiin!
Jadilah generasi ghuraba’! :)
Read More »»