Rabu, 27 Februari 2013

mbak nisa...


Senyummu yang selalu hangat membayang lagi di depan mata. Dirimu yang bagai tiang kokoh yang menopang keluarga ini untuk tetap berdiri. Peluk rangkulmu yang selama ini menghadirkan kehangatan. Sosok keibuan yang meredam keliaran anak-anak liang. Betapa terasa begitu pincangnya keluarga ini setelah kepergianmu. Kini, sudah pasti ‘rumah’ ini tak lagi sehangat dulu.

Apa kabarnya disana, mbak? Apa yang mbak lihat dari atas sana? Mungkin dunia ini sudah terlalu kacau balau untuk ditinggali oleh dirimu yang lurus hatinya. Tuhan di atas sana jauh lebih menyayangimu dibandingkan kami yang kau tinggalkan ini. seperti pepatah lama yang entah datangnya dari mana, “orang baik akan lebih cepat dijemput.” Ketegaran yang selama ini kau perlihatkan, dan segala macam kesulitan yang pandai kau sembunyikan telah mengajariku banyak hal. Mbak masih saja memompa semangat untuk orang-orang disekitar, walau mbak sendiri bersusah payah untuk bersemangat. Mbak selalu tertawa, menebar bahagia, bahkan disaat mbak terbaring di rumah sakit pun, mbak masih saja bisa berkata dengan riang, “aku beneran gak sakit, kok!”

Benar kata ayahku, ajal itu misteri. Belum tentu orang yang selama ini sakit-sakitan bisa meninggal lebih dahulu dibandingkan orang yang sehat bugar. Selama ini, mbak-lah yang sering menemaniku bolak-balik ke dokter, menemaniku ke rumah sakit. Bahkan mbak pula yang paling panik disaat aku mendadak harus masuk UGD. Apa kata mbak saat itu? “kamu itu kan! Gak usah bandel-bandel kenapa? Kenapa kamu paksain tubuh kamu terus?!”. Hmm, aku masih ingat betul wajahmu saat itu, mbak. Marah, gemas melihatku yang saat itu juga hanya bisa cengar-cengir membalas tatapan sebalmu. Aku sangat mengerti, saat itu mbak-lah yang paling khawatir padaku, padahal disaat itu mbak sendiri pun sedang di gerogoti penyakit. Selama ini aku berpikir, usiaku mungkin tak lebih panjang dari orang-orang sekitar yang aku sayangi, termasuk mbak. Tapi ternyata, mbak-lah yang pergi lebih dahulu..

Berita itu terasa seperti petir yang tiba-tiba menyerangku, mbak. Bagaimana bisa? Walau memang terakhir kali mbak kembali di rawat di rumah sakit, tapi bagaimana bisa mbak pergi secepat itu?? Aku marah pada semua orang yang mengabarkan berita itu. Kenapa di hari itu, dengan tega-nya mereka semua membuat lelucon bahwa mbak sudah pergi untuk selamanya? Apa-apaan ini? bukannya mbak sudah mulai sehat?? Bukankah mbak pun sudah mulai bisa pergi ke kampus? Lalu kenapa mereka jahat sekali mengabarkan hoax semacam itu?? Aku rasanya ingin mengamuk di hari itu. Menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa mbak pergi sebelum aku menjadi adik yang baik untuk mbak?

Padahal, rasanya baru kemarin aku curhat ini itu. Termasuk tentang ‘mas-mas itu’. Baru kemarin mbak masih menggodaku soal ‘mas-mas itu’, baru kemarin juga mbak tertawa terbahak-bahak karena anak satu liang membuat mukaku seperti kepiting rebus dengan menyebut-nyebut nama ‘mas-mas itu’ di depanku. Rasanya juga baru kemarin aku melihat mbak bercerita dengan girang soal mas-mas yang mbak kagumi selama ini, berseru heboh saat orang itu menjenguk mbak di rumah sakit. Andai saja aku bisa membuat mas yang mbak kagumi itu memberi kenangan yang lebih indah, sebelum mbak benar-benar pergi.

Tak ada lagi, tak akan pernah ada lagi yang bisa menggantikan posisi mbak di hati kami. Karena itulah, liang kini terasa lebih hampa tanpa tawa mbak. Dinding-dindingnya terasa dingin tanpa kehangatan mbak..
Semoga disana, mbak sekarang bisa beristirahat dengan tenang ya mbak :’)

semoga Allah selalu menjaga mbak disana, mengampuni segala dosa yang sempat mbak perbuat, melapangkan rumah mbak sekarang ini, meneranginya, mengirimkan malaikat yang baik hati untuk menemani mbak disana. Mbak, entah kapan itu, kita bakal bertemu lagi. Jadi, sabarlah menunggu kami mbak :’D

Khoirunnisa Andryani, andai masih bisa melihat tawamu lagi, mbak. :')


Ps : bg aul bilang makasih, mbak. Karna udah menganggap aku adek selama ini. aku juga, entah gimana ingin membalas semua kebaikan mbak selama ini. terima kasih karena udah mau menganggap aku seperti adek mbak yang sebenernya. Dan maaf, bahkan hingga terakhir aku hanya menjadi adek yang merepotkan. :')

Read More »»

Jumat, 22 Februari 2013

masa transisi : disorientasi(?)

Hujan lebat, malam, dan sendirian.

Di depan layar laptop ini saya mencoba kembali menulis sesuatu di blog ini. Blog berdebu yang tak terawat efek dari kesibukan si tuan rumah. Semester tiga yang konon disebut-sebut sebagai 'semester dewa' pun lewat sudah, dan kesibukan tiada tara di semester empat membayang di depan mata. Mungkin setelah satu tulisan kecil ini, si pemilik blog akan kembali menghilang dari dunia perblog-an -_-

Entah baiknya mulai dari cerita yang mana. Yang jelas, belakangan ini saya semacam mengalami disorientasi. Belum ngerti juga sih sebenarnya, apa makna dari disorientasi itu. Yang jelas, belakangan ini saya merasa kehilangan 'jiwa' di tengah bara semangat *cuih, lebay*. Merasa belakangan ini nggak menjadi diri sendiri. Merasa nggak mengenali diri sendiri lagi, merasa ada 'saya' yang lain yang tiba-tiba muncul dan pelan-pelan mengusir saya yang asli si pemilik tubuh ini. saya pernah baca sebuah novel, tentang seseorang yang 'memiliki' tiga orang yang berlainan dalam dirinya sendiri. Menurut cerita novel itu, orang yang begitu berarti memiliki penyakit autis. Autis yang bener-bener autis secara medis. Dan sekarang, saya merasa ada 'dua' orang dalam satu tubuh ini. jadi?

Bukan, tentu saja saya bukan anak autis. Saya terlahir sebagai anak normal yang tak punya 'dunia lain' seperti yang dimiliki oleh setiap anak autis di dunia ini. Saya normal, hanya saja, mungkin karena masa yang disebut sebagai masa transisi ini, saya terkadang menjadi orang lain. Biasanya dulu saya merasa bebas berceloteh, bercuap-cuap ria membagi setiap hal yang saya pikirkan dengan orang-orang disekitar. Ada yang bilang saya ini orangnya rada-rada heboh dan sulit untuk diam. Tapi belakangan ini, saya menjadi agak sedikit pendiam, lebih sering menyimpan semuanya di dalam hati atau membiarkannya menguap dengan sendirinya di dalam pikiran. Ada 'seseorang' yang sering membungkam mulut saya ketika saya ingin cerita ini-itu dengan teman-teman dekat. Ada 'saya' yang lain yang selalu menahan saya untuk tidak menceritakan hal-hal yang semrawut dalam pikiran kepada orang lain. "cerita dalam hati saja!" kata 'saya' itu pada saya. Dan itu membuat saya jengah karena tidak betah menjadi seseorang yang lain. Seringkali ekspresi wajah saya yang muncul dihadapan orang-orang sekitar itu adalah ekspresinya si 'saya' yang tentunya bertolak belakang dengan saya sendiri. Banyak hal yang dulunya saya sukai, namun kini jadi hambar karena 'saya' tak menyukai hal-hal yang saya sukai tersebut. Jadilah saya dan 'saya' itu sekarang sering bertengkar, meributkan banyak hal, saling tuding ini dan itu, di satu tubuh ini. Membuat saya pusing sendiri -_-



Apa sebenernya yang saya alami ini? saya menyebutnya dengan disorientasi, semacam kehilangan orientasi. Sekali lagi, entah apa makna dari disorientasi itu sebenarnya. Tapi kalau menurut kamus hidup saya, apa yang sedang saya alami inilah makna dari disorientasi itu. Oke, tak perlu membahas panjang lebar soal makna disorientasi ini, karena penjelasan tentang 'saya' dan saya saja sudah cukup membuat rumit isi tulisan ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa sekarang saya jadi begini?
Hufhh..

belakangan memang banyak hal yang terjadi. Terlalu banyak yang dipikirkan. Terlampau rumit yang dirasakan. Sampai sekarang saya masih berduka karena kepergian seorang kakak senior yang sudah seperti kakak saya sendiri. Sudah hampir dua bulan, saya kehilangan tempat untuk mengekspresikan diri. Kehilangan tempat curhat, kehilangan seseorang yang bijak dengan petuah-petuah kedewasaannya. Bahkan rasanya masih belum bisa percaya, kalau sekarang kita sudah berada di dunia yang berbeda. Semoga kakak beristirahat dengan tenang sekarang, di tempat yang terbaik disisiNya :') (amiin).

Ini juga mungkin efek dari sepenggal cerita dari berlembar-lembar kisah hidup saya. Sepenggal cerita yang tak ingin saya sebut-sebut lagi. Sepenggal cerita yang juga tak akan saya ungkapkan disini. Sepenggal cerita yang sekarang sangat ingin saya lupakan.

Mungkin juga, karena saya sudah terlalu kangen ingin pulang ke rumah. Mengingat ibu saya yang belakangan sering sakit, mengingat ayah saya yang tiap hari semakin letih mencari biaya hidup saya disini. Mengingat adek-adek yang begitu cepat tumbuh besar (sedih rasanya melihat mereka tumbuh begitu cepat tanpa saya T.T). Atau mungkin juga karena banyak hal-hal lain yang dilarang 'saya' untuk saya ceritakan disini. whateverlah.. mungkin memang inilah masa transisi itu. -__-

#efek hujan lebat

Read More »»

Jumat, 04 Januari 2013

2013


Tahun berganti. Tanpa hura-hura, tanpa kembang api, tanpa jagung atau ayam bakar. Pergantian tahun tertelan oleh hujan semalaman yang dingin. Langit membatalkan seribu rencana pesta-pora di tanah ini. Kabar baik bagi orang-orang yang tak suka kebisingan.

Sejenak roda masa lalu berputar, membayang di depan mataku. Terlalu banyak hal besar bagiku yang terjadi setahun belakangan. Tahun yang menghadirkan sebuah resolusi besar bagi hati, jiwa dan ragaku. Tahun pendewasaan, tahun pematangan, tahun pembelajaran. Hingga kini, pemahamanku mengenai hidup naik satu tingkat dari sebelumnya. Hal baik dan hal buruk pun terjadi bersamaan. Hal baiknya, aku menjadi belajar tentang banyak hal tentang hidup. Hal buruknya, aku menjadi sadar bahwa hidup itu keras, bahwa dunia itu kejam. Dan akupun sampai pada salah satu defenisi kedewasaan. Dewasa, sama dengan kesadaran bahwa hidup itu tidaklah mudah.

Terlalu banyak tangis yang pecah dari mata ini. entah itu karena begitu cengengnya aku, atau memang karena hidup akhir-akhir ini yang memang semakin sulit. Atau juga karena hatiku yang memang terlalu rapuh. Namun semakin kesini aku juga semakin paham, akan hal-hal mana yang patut dan tak patut untuk aku tangisi. Aku semakin mengerti mana tangis yang akan melemahkan aku, dan mana tangis yang justru menguatkan. Mana tangis yang berarti, mana tangis yang hanya sampah. Bodohnya aku yang pernah menangisi hal-hal bodoh..

Awalnya aku bagai perahu yang tak punya kemudi. Terombang-ambing kesana kemari mengikuti maunya ombak. Tak punya pendirian, selalu plin-plan dan mudah terbawa arus emosi. Pikiranku seringkali tak terkendali, sering terlupa akan prioritas, terlalu terfokus pada hal-hal yang ‘tak penting’. Aku lupa akan amanah nomor satu yang harus aku pikirkan dengan serius. Membuatku sesaat kehilangan arah, tanpa tujuan. Hingga sebuah perahu lain hadir begitu saja di hadapanku. Perahu lain dengan sebuah kemudi yang cukup memadai. Ia tak sungkan mengaitkan talinya pada perahuku, menuntunku pada alur yang seharusnya. Mencarikan aku jalan untuk dapat menemukan tujuan yang hilang. Hingga kini aku tau mana jalan yang harus aku tempuh, dan mana jalan yang harus aku tinggalkan. Yang membuatku bertahan teguh menghadang badai. Yang membuatku dapat terus bersabar hingga nantinya tuhan mempertemukan aku dengan “pengemudi kapal” terbaik. Walau tak semua sifat jelek yang kumiliki bisa kuubah, namun aku tetap akan berusaha menjadi yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi.

Hidup itu keras, itulah yang aku pelajari dari jalanan yang sering ku lewati setahun ini. hidup itu terasa begitu sulitnya bagi sebagian orang, namun terasa begitu mudahnya bagi sebagian yang lain. Aku paham, disini aku memasuki tahap pengujian kesabaran. Karena orang-orang dewasa adalah orang-orang yang kesabarannya telah teruji. Aku terbentur dengan penyakit yang terkadang melunturkan semua semangat yang susah payah aku bangun. Masalah klasik tentang ekonomi keluarga-ku juga seringkali terasa menyesakkan. Peluh ayah-ku, tangis ibu-ku, tawa adik2-ku... bagaimana mungkin aku menggadaikan itu semua dengan kegalauan ala anak muda yang tak tentu arah? Aku harus menjadi dewasa, bagaimanapun caranya. Aku harus membayar pengorbanan keluargaku dengan hasil yang membanggakan. Harga mati yang harus aku bayar. Kalau sudah begini, bagaimana bisa aku terus bergumul dengan masalah kanak-kanak? Aku tersadar, sekarang aku bahkan tak punya waktu untuk memikirkan tentang romantika.

Seseorang kerapkali menyebutku ‘egois’ dalam suatu hal. Entahlah, mungkin memang ada benarnya juga. Dalam konteks ‘itu’, semakin kemari aku semakin egois saja. Semakin tak mau mengerti tentang orang itu, semakin menyempitkan ruang di hati dan pikiranku untuk orang itu. Saat kata-kata ‘egois’ itu ia sematkan padaku, hmm.. walau ada sedikit rasa tak enak, namun aku sama sekali tak merasa sedih. Karena orangtua-ku, justru bertolak belakang dengan dia. Orangtua-ku bilang, aku yang sekarang bukan lagi gadis kecil yang cengeng dan egois seperti dulu. Orangtua-ku bilang, aku semakin jauh lebih pengertian dan kuat dibandingkan dulu. Orangtua-ku, dan orang-orang yang jauh lebih mengenalku, berkali-kali mengatakan bahwa aku kini sudah mulai dewasa. Dan itu semua sudah cukup untuk menjadi energi keoptimisan bagiku. Seseorang itu, hanya belum tau saja, apa yang sedang aku hadapi belakangan ini. Aku mengerti kenapa ia-pun menjadi sulit untuk mengerti. Jalan hidup yang harus aku tempuh tak-lah semudah jalan hidupnya.

Yah.. tahun telah berganti. Banyak hal yang telah terjadi, hal baik atau-pun hal buruk. Semuanya menjadi penempaan bagi diriku. Aku tahu aku masih jauh dari yang namanya sempurna, dan tak akan pernah menjadi sempurna. Tapi di tahun yang baru ini, aku akan menjadi pribadi yang baru. Dengan semangat dan kekuatan yang baru. Masa lalu-ku, akan aku tinggalkan semuanya di belakang. walau tak ada seorang-pun yang menjanjikannya padaku, tapi aku yakin di depan sana ada masa depan yang cerah akan menyinari hidupku. Aku yakin, masa-masa yang semakin sulit kelak akan terbayar. Aku akan menjadi zahrah nurfadhilah yang baru, sebagai anak yang lebih membanggakan, sebagai kakak yang dapat menjadi uswatun hasanah bagi adik2ku, sebagai sahabat yang lebih baik. Sebagai gadis tangguh, untuk menjadi pasangan bagi seseorang yang tangguh juga nantinya.

Tanganku kini mungkin memang masih kosong. Tapi di tahun-tahun selanjutnya, aku pastikan akan ada mimpi yang dapat aku genggam!


Read More »»

Minggu, 30 September 2012

Bye, september..


Too many good things happen on september..

September. Tanpa terasa, bulan paling spesial bagiku ini akan berlalu. Hari ini hari terakhir, sebelum oktober dengan segala ceritanya menyambut. Aku ingin menikmati hari terakhir ini. sebelum september benar-benar pergi, sebelum september kembali aku rindukan.

Telat mungkin, tapi tak apalah rasanya di ucapkan sekarang juga. Toh, ini masih september, bulan ini masih milikku. Happy birthday, zahrah. Barakillah, semoga umurmu yang telah berlalu itu, tak berlalu dengan kesia-siaan. Semoga waktumu, waktumu yang telah hilang itu, tak hilang tanpa ada manfaat. Begitu juga ke depannya nanti. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu. Jadilah lebih dewasa, jadilah lebih baik lagi. Yap, jadilah lebih baik daripada sebelumnya.. :)

Jika ada yang bertanya, apa yang paling aku inginkan di usia ini? aku akan menjawabnya dengan satu hal saja. Satu saja, tak banyak kok, walau sudah pasti hal itu sangat impossible untuk dapat terwujud. Tapi itulah yang aku inginkan saat ini. Kembali ke masa lalu. Kembali ke empat tahun lalu. Sebelum aku memilih menginjakkan kaki ke sekolah paling favorit di kotaku itu...

Aah.. bukan berarti aku menyesali semua pengalaman yang aku dapatkan dari sekolah itu. Bukan berarti aku menyesali semua persahabatan, cinta, sedih dan tawa yang aku dapatkan dari orang-orang yang aku temui di sekolah itu. Bukan. Sama sekali bukan. Justru karena semua hal yang terjadi disana, semua orang yang aku temui disana, semua rasa yang aku dapatkan dari sana, terlalu indah rasanya untukku. Hingga rasanya aku tak pantas mendapatkan itu semua.

Hari itu, teman-temanku diam-diam menyiapkan kejutan untukku. Kejutan yang sudah dapat ku reka sebelumnya. Haha. Ada yang dengan polosnya mengatakan rencana itu, tanpa menyadari aku ada di dekatnya. Tapi walau aku sudah menduganya, tetap saja, saat mereka bernyanyi dan membawakan sebuah tart mini berhias lilin, aku menangis. Menangis di hadapan mereka semua, dan mereka malah menertawaiku yang haru mendapatkan itu semua. “Umi, abi, ternyata aku juga punya keluarga yang hangat di sini..” rasanya saat itu aku ingin menyampaikannya pada ibuku. Terimakasih semuanya :)

Hah. Mungkin karena hari ini adalah penghujung september, membuat aku menjadi lebih mellow dari hari-hari lainnya. September pergi.. ah, yang benar saja. Kenapa september harus pergi?? Ditambah pula letihnya begadang semalam yang belum terbayarkan, membuat aku berada dalam mood kurang baik di penghujung september ini. seperti yang aku bilang sebelumnya. Too many good things happen on september. Membuat aku merasa sedikit tidak rela berpisah dengan bulan ini.

September yang begitu sibuk. Kuliah pagi, praktikum hingga sore, berkutat dengan laporan semalaman. Siklus hidup seorang mahasiswa biologi semester tiga yang membuatku ‘eneg’. Padahal ini baru bulan pertama kuliah, tapi letihnya, sibuknya, bukan main. Aku jadi sering kumat belakangan ini. sering sekali. Tapi semakin sering, aku semakin sadar. Allah begitu menyayangi aku, hingga kini. Aku bersyukur telah dilahirkan di bulan September.. :’)

Bye, september. see you next year..
Read More »»

Minggu, 19 Agustus 2012

I'm okay


Senior : udah, kamu istirahat aja di sana. Di sana lebih teduh..

Aku : hem, gak deh. Aku di sini aja ngeliatin yang lain main. Hehe

Senior : kalau kamu gak kuat mending ke tempat yang teduh aja..

Aku : hee.. emang siapa yang bilang aku sakit? Aku gak apa-apa kok, bener dah. Haha.

Senior : udahlah. Jangan sok2 ceria gitu di depan aku. Di depanku itu gak akan mempan buat nyembunyiin sakitmu!

Aku : *mingkem, terpana*

Yah, selagi ada mereka, orang-orang yang begitu care denganku. Senior dan teman-teman yang baik. Aku yakin, aku akan baik-baik saja. :)


Read More »»

Selasa, 14 Agustus 2012

belum tentu!


Belum tentu! Belum tentu mereka yang berjilbab dalam lebih baik daripada mereka yang baru-baru belajar berjilbab.

Belum tentu mereka yang begitu menjaga pandangan lebih baik daripada mereka yang baru-baru mengerti tentang hijab.

Belum tentu mereka yang punya banyak kontribusi dalam dakwah lebih baik daripada mereka yang baru saja melangkah.

Belum tentu mereka yang qiyamnya rutin lebih baik daripada mereka yang baru belajar disiplinkan shalat yang lima waktu.

Belum tentu mereka yang suaranya indah saat mengaji lebih baik daripada mereka yang masih terbata-bata melafadzkan huruf-huruf al-qur’an.

Belum tentu mereka yang menutup telinga dari lagu-lagu non religi lebih baik daripada mereka yang baru saja mengenal nasyid.

Belum tentu mereka yang anti pacaran lebih baik daripada mereka yang baru saja memahami cinta karena Allah.

Belum tentu!
belum tentu dirimu yang ibadahnya banyak bisa lebih baik dari mereka yang baru saja belajar shalat. Belum tentu dirimu yang sering puasa sunnah bisa lebih baik dari mereka yang puasa wajibnya pun masih bolong-bolong. Belum tentu dirimu yang banyak menghafal al-qur’an bisa lebih baik dari mereka yang baru saja belajar membacanya. Belum tentu semua kebaikanmu di dunia bisa menjaminmu langsung masuk surga, dan belum tentu mereka yang sedikit sekali amalnya di dunia sudah dipastikan masuk neraka. Adakah jaminannya?

Banyak beribadah, banyak mengerti ilmu agama, menjadi aktifis dakwah, belum tentu menjadikan diri kita lebih suci dari yang lain. hingga terkadang ada saja hawa kesombongan masuk memenuhi hati. Merasa diri ‘lebih baik’ karena lebih banyak hafalan qur’an-nya. Merasa ‘lebih baik’ karena luas wawasan islaminya. Merasa ‘lebih baik’ karena bisa berkontribusi lebih banyak dalam dunia dakwah. Dan hal-hal baik lainnya yang membuat diri terkadang merasa ‘lebih baik’ dari orang-orang sekitar yang ibadahnya masih tersendat-sendat.

Tahukah kamu bahwa setan sudah berjanji tak akan pernah tidur hingga manusia semuanya bisa tersesat? Dengan segala cara mereka gunakan untuk merendahkan derajat kita di hadapan penghuni langit. Menghasut hati-hati manusia agar ingkar pada Rabb yang menciptakannya. Menarik manusia agar berbelok dari jalan yang lurus.

Ketika setan sudah merasa tak bisa lagi mengajak kita untuk lalai dari beribadah. Tak bisa lagi mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam dakwah. Maka saat itulah setan menggunakan celah terakhirnya untuk meluluhlantakkan semua pertahanan ibadah yang sudah kita lakukan. Celah yang sempit, namun ketika setan berhasil masuk lewat celah itu, habislah sudah ‘nilai’ kita di hadapan langit. Celah kesombongan. Dari satu benih kesombongan yang setan semai di hati kita, maka hancurlah semua pohon-pohon amal yang sudah lama kita rawat. Tak bernilai, berbalik malah memberatkan timbangan dosa. Na’udzubillahi mindzalik...

Karena siapa tahu, mereka yang baru saja mengerti islam memiliki hati yang lebih bening daripada kita. Karena siapa tahu, mereka yang baru saja tobat karena segunung dosa, memiliki rasa takut pada Allah yang lebih besar daripada kita. Karena bisa jadi, justru merekalah yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi di mata Allah daripada kita. Hanya Allah yang berhak menilai keimanan manusia, bukan kita.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia(karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Luqman : 18)

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”( QS. Al-Isra’ : 37)

Lalu, masihkah kita merasa lebih baik? Lebih suci?


Read More »»

Minggu, 12 Agustus 2012

Tipe Sanguinis

Hem. Belakangan ini teman-temanku rada-rada heboh ngebahas soal karakter pribadi masing-masing orang. Ada yang bangga dengan sifat kolerisnya, ada yang malu-malu mengakui sifat plegmatisnya, ada yang bersungut membahas tentang seseorang yang melankolik, tak ketinggalan pula tentang orang yang sanguinis. Haaah.. dari ke empat karakter itu, (setelah denger-denger ceritanya dan sedikit gugling) ternyata aku masuk dalam golongan orang-orang bertipe sanguinis. #kayaknya sih.

Sanguinis itu gimana? :O hmm.. kurang lebih seperti ini sodara-sodara!



SANGUINIS (Yang Populer)

Mereka cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.
Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

Seorang sanguinis mempunyai kekuatan dan kelemahan sebagai berikut :
Kekuatan : suka bicara, antusias, ekspresif, ceria, penuh rasa ingin tahu, hidup di masa sekarang, mudah berubah (banyak kegiatan/keinginan), berhati tulus, kekanak-kanakan, senang berkumpul (untuk bertemu dan bicara), umumnya hebat di permukaan, mudah berteman dan menyukai orang lain, senang dengan pujian, ingin menjadi perhatian, menyenangkan dan dicemburui orang lain, mudah memaafkan (tidak menyimpan dendam), mengambil inisiatif/menghindar dari hal-hal yang membosankan, spontanitas, serta seorang yang demonstratif dan emosional.
Kelemahan : suara dan tertawa yang keras, membesar-besarkan suatu hal, susah diam, mudah dikendalikan oleh keadaan/orang lain (suka nge-Gank), sering minta persetujuan, RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek), banyak bicara saat bekerja dan melupakan kewajiban, mudah berubah-ubah, susah tepat waktu jam kantor, prioritas kegiatan kacau, mendominasi,percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas, sering mengambil permasalahan orang lain menjadi seolah-olah masalahnya, egoistis, sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yang sama, serta konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.

diliat-liat, sepertinya banyak kekurangannya daripada kelebihannya yah -__-.
Kalimat yang satu ini : Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur.
bisa dibilang kalimat yang satu ini gue banget. Aaaah, apa gak bisa diubah ya, semua kebiasaan jelek ini? -___-

Tapi kalau lebih di liat lagi, rasa-rasanya aku gak sepenuhnya sanguin. Ada campuran plegmatis dan melankoliknya. Hmmm... mungkin ini karena aku yang anak blasteran minang-sunda kali yah? Makanya karakternya jadi campur aduk. Hahah #ngawur.

walaupun sepertinya sifat sanguinis ini lebih banyak kekurangannya, tapi aku percaya, para sanguinis juga bisa menjadi pribadi yang unggul di antara pribadi-pribadi lainnya. Setiap karakter pasti punya negatif dan positifnya, tergantung diri masing-masing untuk dapat meng-unggulkan yang positifnya dan meminimalisir negatifnya. :)

#gugling2 lagi, ada yang bilang sifat sanguinis ini bisa terlihat dari karakter yang dihadirkan pada tokoh anime. Diantaranya Naruto dan Avatar ang. Haha, ada2 aja -__- tapi keren! :D
Read More »»

Sabtu, 11 Agustus 2012

'kembali'

rumah duka itu di penuhi para pelayat. beberapanya aku perhatikan dengan seksama. ada yang matanya memerah, menahan tangis, ada yang betul-betul menangis dan terisak, dan ada pula yang hanya memperlihatkan wajah sendu. wajah-wajah teman SMA yang sudah lama tak kulihat, terlihat memenuhi kursi para pelayat. hah.. seharusnya bukan kabar duka ini yang membuat kami bisa berkumpul seperti reunian. aku membisu.

langkahku dengan perlahan memasuki pekarangan rumah duka itu. di depan teras, beberapa anggota keluarga dan seorang ayah duduk menyambut pelayat dengan muka yang di tabah-tabahkan. aku menyalami seorang ayah itu, dengan senyum pahit yang tersungging di wajahku. rasanya.. aku masih belum bisa mempercayai kabar ini, kabar yang terdengar seperti suara petir di tengah terik matahari. kenapa secepat ini?

hingga akhirnya aku melihat tubuh kaku itu terbujur di atas sebuah dipan. ditutupi kain-kain dengan corak batik yang khas untuk menyimbolkan kematian. wajah tubuh itu hanya ditutupi oleh selembar kain transparan, yang membuat kami, para pelayat masih dapat melihat wajah tenang itu untuk terakhir kalinya. sesuatu menyembul dari sudut mataku, mengalir hangat membasahi pipi yang dengan cepat aku usap. aku tak boleh menangis di depan seorang ibu yang sedari tadi berusaha untuk tabah. ya, seorang sahabat kami telah kembali, kembali ke tempat di mana kami pun akan kembali kelak..

aku masih terdiam di antara teman-teman yang ikut melayat. pikiranku menerawang, namun tak jauh dari sini. mungkin saja, teman kami itu masih ada di sini. di pojokan ruangan, di samping jasadnya, di dekat ibunya, atau ikut duduk bersama para pelayat. yah.. mungkin saja kini ia sendiri merasa sedih, melihat wajah-wajah yang menangisinya karena kehilangan. melihat wajah ayah dan ibunya. sendirian tergugu di antara orang-orang yang masih memiliki napas.. dan mungkin ia akan berkata pada orang-orang yang melayatnya, pada teman-teman yang menangisinya, "tahukah kalian bahwa nikmat hidup itu begitu besar?"

waktu zhuhur pun menjelang, membuat semua pelayat bersiap untuk shalat dan menshalatinya. mesjid yang penuh dengan ma'mum membuatku tersenyum. begitu baik kesan yang ditinggalkan olehnya di hati kami. aku jadi bergidik, mengingat belum tentu seramai ini orang yang akan menshalatiku kelak..

matahari yang biasanya menyengat, seharian ini entah kenapa begitu teduh. sesekali ada rintik-rintik hujan yang membasahi jalanan. menemani perjalanan kami menuju pemakaman, tempat kami benar-benar akan melepasnya pergi ke dunia ghaib itu. dan saat pemakaman itu selesai, saat kelopak-kelopak mawar yang harum itu selesai di tebar, hujan turun ikut menangisi kepergiannya. bahkan penghuni langit pun ikut mendoakan..

sekali lagi, ia bukan pergi. tapi kembali ke tempat dimana kita juga akan kembali kelak. semoga kini ia tenang di sana. di temani malaikat yang ramah, di terangi cahaya langit. ampuni segala dosa sahabat kami, ya Allah.. beri ia, tempat yang terbaik disisiMu. aamin..

@6 Agustus 2012. 18 ramadhan 1433.
seorang sahabat telah tiada, dan entah kapan kita akan menyusulnya..

Read More »»

Senin, 30 Juli 2012

aku takut

aku takut untuk kembali ke kota itu. aku takut kembali pada kota yang sebenarnya ramah, namun penuh dengan keterasingan. sendiri memijak tanah yang berbeda, sendiri menghirup udara yang tak sama. ya, sendiri walau tak benar-benar sendiri. aku tahu, sebenarnya disana aku punya lebih dari cukup sahabat yang mampu menjadi partnerku. yang mau menerima aku dan duniaku, aku dan lebihku, aku dan cacatku. mereka ada untukku, mau menemaniku melewati waktu yang dingin disana. tapi..

jika teringat pada beberapa orang itu..

aku kembali merasa sendiri. terkukung masa lalu yang terus berdenyut tak terlupakan. terancam masa depan yang tak pasti. mereka, beberapa orang itu, yang jika aku ingat namanya hatiku kembali merasa ciut. membuat semangat berkobar yang kugenggam mendadak padam. melumat semua ke-percayadiri-an yang susah payah aku bangun. mereka dengan perannya masing-masing. kadang aku berpikir, seandainya aku tak pernah mengenal nama-nama itu..

khusus untuk seseorang. ingin sekali rasanya aku mengucap terima kasih. karena telah berhasil membuat aku merasa tak punya apa-apa yang patut untuk dibanggakan. berhasil mengkerdilkan aku diantara orang-orang hebat yang sering ia sebut-sebut. seolah hanya cacatku yang tak bisa ia terima itu sajalah yang terlihat. selalu membandingkan aku dengan orang-orang yang pandai sekali memainkan topeng itu. topeng yang ia bilang, mampu membuat orang biasa menjadi terkenal. cih. aku benci dibanding-bandingkan! telingaku sudah terlalu panas mendengar semua omong kosongnya. biarlah aku tak masuk dalam dunia gemerlap yang seringkali ia bangga-banggakan itu.

aku merasa nyaman disini. bertemu sahabat-sahabat yang sudah layaknya saudara bagiku. mereka yang sama sekali tak pernah membuatku minder dengan segala keterbatasanku. justru membuatku tak sungkan untuk menjadi apa adanya. mereka yang bisa membuatku kuat menghadapi 'beberapa orang' itu..

huufh.. jika memang aku harus kembali.. sampai disana mungkin aku akan bergegas mencari tempat bersembunyi. tempat yang tak akan tersentuh oleh mereka. sembunyi sendirian menyelamatkan dunia kecilku. melindungi kobaran semangatku agar tetap bertahan. aku takut diriku akan mati dan berubah menjadi orang lain jika terus berada di dekat mereka. sebisa mungkin, rasanya aku ingin menghilang dari pandangan mereka..

#andai aku bisa mengajakmu pergi bersama, menjadi kuat bersama, menghadapi hari yang sama. kau seperti tongkat yang kokoh untuk kakiku yang rapuh. sandaran hangat untuk pundakku yang menggigil. denganmu, sahabat, mungkin aku tak akan lagi takut bertemu orang-orang itu.. yah.. andai saja..

Read More »»

Senin, 16 Juli 2012

Belajar dari kakek-kakek..


Aku memantapkan langkah, menginjakkan kaki di lantai rumah sakit yang selalu dingin. Sudah beberapa bulan aku membolos untuk hadir di sini. Aku jadi canggung dan sedikit pangling dengan kondisi rumah sakit yang sedikit berbeda. Oh, tempat pendaftaran pasien ternyata sudah berubah. Sudah dipindahkan ke gedung baru, yang beberapa bulan lalu kulihat masih berupa bangunan setengah rampung.

Aku mengambil nomor antrian, dibantu oleh seorang satpam yang selalu siaga berdiri di samping alat pencetak nomor antrian itu. Angka 166 tercetak di kertas yang kini aku genggam. Aku melangkah lagi mencari tempat duduk, di ruang tunggu khusus pasien askes. Sulit menemukan kursi kosong. Pasien hari ini begitu banyak ternyata. Terlihat lebih ramai dari biasanya, beberapa bulan yang lalu. Satu kursi kosong tertangkap oleh mataku, di sebelah seorang kakek-kakek yang begitu renta.. seorang kakek yang hari ini memberiku pelajaran yang cukup berharga bagiku.

Aku duduk, setelah mengangguk sopan tanda minta ijin pada sang kakek itu. kakek itu-pun tersenyum memperlihatkan gigi-gigi ompongnya. Aku duduk dengan tenang, masih dengan canggungku. Tiba-tiba saja kakek itu menyapaku, dan bertanya :

“Siapa yang sakit?”

Aku menoleh dengan sedikit gugup. Ah! Rumah sakit ini membuatku kikuk.

“Saya, kek..” aku menyunggingkan senyum. senyum tulus tentunya. Dan kakek itupun bertanya lagi,

“Sakit apa emangnya?” hm. Pertanyaan ini sudah dapat ku tebak pasti akan ditanyakan orang. Dengan ragu aku menjawab..

“Jantung, kek..” kulihat muka kakek itu berubah, rasa terkejut terbaca di wajahnya. Menyiratkan keheranannya, kenapa bisa anak muda sepertiku punya penyakit seperti itu?

“Kalau kakek sakit apa?” 

saat aku tanya begitu, saat itu pula kakek menjelaskan segala macam penyakit yang ia punya dengan panjang lebar. Komplikasi. Beberapa organ dalam tubuhnya memiliki masalah yang serius. ‘yah, beginilah kalau sudah tua..’ ujar sang kakek dengan tawanya saat aku mengeluarkan ekspresi takut. Takut membayangkan betapa sakitnya kakek itu selama ini..

Kakek bilang, nama penyakit yang ia idap adalah SARJANA GILA. Aku mengernyitkan dahi. Hm? Penyakit macam apa itu? rupanya.. itu adalah singkatan dari berbagai macam penyakit yang kakek punya. SAraf, JAntung, perNApasan, GInjal, dan guLA. Oalaaah.. bisa saja si kakek ini. kakek tertawa saat aku tertawa mendengarkan penjelasan dari singkatan aneh yang beliau buat itu. tapi tetap saja, dalam tawaku aku menyimpan rasa ngeri. Bagaimana kakek ini bisa melewati hari tuanya dengan penyakit sebanyak itu? dan aku yakin, tidak hanya kakek ini saja. Tapi juga kakek-kakek yang duduk disebelah kakek ini. Atau kakek yang duduk paling depan itu, yang begitu terlihat bungkuk dan renta. Atau juga nenek-nenek tua yang terduduk lemas di atas kursi roda itu. semuanya pasti punya penyakit yang lebih dari satu. Hmmhh.. aku seperti diingatkan mereka. “Sesukses apapun masa mudamu, kelak saat tua kau juga akan seperti ini. jadi, apa yang sebenarnya patut kau sombongkan??”

Kembali ke kakek dengan penyakit sarjana gila-nya tadi. Pembicaraan kami tak berhenti hanya dengan membahas penyakit masing-masing yang kami miliki. Kakek itu bercerita banyak hal, bertanya berbagai macam pertanyaan. Mengajari ini itu, menceritakan masa mudanya dulu. Aku seperti tenggelam ke masa lalu, seolah menyaksikan sendiri perjalanan hidup dari kakek ini, walau hanya segelintir saja yang beliau ceritakan.
Sedang asyik-asyiknya bercerita, rupanya nama kakek disebut oleh bapak-bapak loket pengurus pendaftaran itu. yah, cerita terputus. Sang kakek pamit duluan menuju loket askes, dan lanjut ke poliklinik tempat ia akan kontrol penyakitnya itu.. aku kembali termenung sendirian, nomorku masih lama untuk dipanggil. Sambil menunggu.. tiba-tiba saja seorang kakek-kakek lain yang duduk di sebelah kakek tadi menyapaku. Sepeti kakek sebelumnya, menanyakan perihal sakitku, dan lagi, kembali kulihat raut keheranan di wajah beliau.

Kakek yang satu ini tak jauh beda juga dengan kakek sebelumnya. Ia harus operasi jantung, kontrol paru-paru dan lambungnya. Haduuuh.. aku ngeri sendiri memikirkan tentang semua penyakit yang diidap pasien-pasien disini. ternyata penyakitku masih belum seberapa.

Kakek yang ini juga senang bercerita rupanya. Bahkan lebih heboh dari kakek pertama tadi. Saat kakek ini mengetahui kota asalku, Kota Padang, kakek langsung berseru,

“Wah! Saya dulu pernah di sana. Di Tabing, tau kan? Walaah.. dulu di sana masih banyak sekali hutan, apalagi hutan gambut.” Cerita kakek. Aku jadi bersemangat mendengarkan karena ternyata kakek juga pernah ke kota asalku.

“Tapi pastinya dulu mbak belum ada disana. Tahun ’57 saya disana dulu..” weleeh, ya iyalah kek. Tahun segitu bahkan orangtua-ku belum lahir >.<

Ternyata kakek ini dulu seorang tentara. Yang sempat dinas beberapa waktu di Kota Padang. Sudah melewati berbagai peperangan dan pemberontakan yang panas di masa-masa lampau itu. hiiih.. padahal aku sudah ngeri dengan penyakit beliau, kini aku merasa lebih ngeri lagi mendengarkan cerita-cerita beliau di masa peperangan. Aku jadi teringat dengan almarhum kakekku sendiri.. yang juga tentara. Tapi sayangnya, beliau sudah tiada saat ayahku masih kuliah di tahun kedua. Jadi aku tak sempat menjadi cucunya secara nyata dan mendengarkan kisah-kisah peperangannya.

Kakek tadi bercerita kalau dulu ia pernah tertembak di bagian bahu kirinya. Dan nyaris mati tertembak musuh jika teman seperjuangannya tidak menendangnya. Kakek menceritakan huru-hara yang terjadi di tahun 50-an itu. mendengar cerita kakek, aku seperti menonton film peperangan yang biasanya ada di tv. Semua yang kakek ceritakan terbayang dalam imajinasiku. Ternyata ini untungnya menjadi orang yang berimajinasi tinggi (katanya). Semua cerita bisa segera di visualisasikan. Hehe

Hal yang menarik bagiku, adalah melihat riangnya kakek ini. dari gelak tawanya, dari selera humornya yang beberapa kali membuatku menutup mulut karena malu kalau terbahak-bahak di tempat umum (malu lah broo.. kita kan harus jaga imej! #abaikan). Padahal kakek ini memiliki penyakit yang berat, dan sebentar lagi harus menghadapi operasi berat. Istri beliau pun kini sedang berada dalam perawatan pasca operasi pencernaan di rumah sakit lain. Itulah kenapa sang kakek ini tak ada yang menemani berobat di rumah sakit. Dengan penyakit sedemikian rupa, kakek masih bisa menceritakannya dengan begitu ringan. Tanpa mengeluh, terlihat dengan keikhlasan yang penuh. Kakek bilang,

“Yah, kita dikasih sakit juga harus bersyukur. Yang maha kuasa berarti ingat pada kita. Memangnya kita mau gimana lagi toh? Memberontak, ngasih penyakit ini ke orang lain? Ya mana bisa.. jadi yah.. hidup ini jalani aja.. kalau takdirnya sembuh.. kita bakal sembuh. Tapi kalau belum, ya tetep usaha supaya sembuh..”

Kakek mengatakan kata-kata itu dengan begitu ringan. Tanpa terlihat ada suatu beban yang tersembunyi. Kakek bilang, semua sudah jalannya. Setiap orang memiliki jalan sulitnya masing-masing, tapi tergantung kita mau melangkah di atas jalan itu bagaimana. Kalau ikhlas, pasti dalam perjalanan akan dimudahkan. Ah, kakek ini.. aku jadi merasa tertampar karena penyakitku yang tak seberapa ini, tapi malah lebih sering mengeluh.

Cerita di selingi dengan cerita tentang anak-anak sang kakek. Yang kata beliau sudah jadi “orang” semua sekarang. Bahkan cucunya kini ada yang kuliah di luar negri. Hal itu semua tidak terlihat dari penampilan kakek yang begitu sederhana. Aku jadi berpikir, apa tidak ada satupun anak kakek yang bisa menemani beliau operasi hari ini? aah.. aku jadi kepikiran macam-macam. Apa nanti, saat aku tua, aku juga akan seperti kakek? Berobat sendirian, ke rumah sakit sendirian. Tak ada anak yang sempat menemani? Aku jadi merasa takut untuk beranjak tua.

Cerita panjang lebar dengan kakek ini pun harus terputus. Ketika nama beliau juga disebut untuk mengurus administrasi askes. Aku kembali di tinggal sendirian. Termenung, merenungkan setiap cerita yang kakek ceritakan tadi. Ahh.. aku masih kurang mensyukuri keadaanku yang masih lebih baik dari orang lain..
Tiba-tiba saja namaku-pun dipanggil. Aku bangkit, membayar biaya administrasi, mengambil berkas askes, dan melenggang pergi menuju poliklinik tempat aku akan kontrol. Poliklinik jantung. Tak kusangka disana aku kembali bertemu dengan kakek pertama. Kakek berseru girang,

“Waaah.. ketemu lagi!” kata beliau sambil tertawa. Cerita yang tadi terputus kembali disambung kakek itu saat lagi-lagi kita harus menunggu di ruang tunggu. Macam-macam ceritanya. Bahkan kini sudah menjurus ke pertanyaan, ‘kelak, saat punya anak, ingin anak laki-laki atau perempuan yang pertama?’. Haha.. cerita ini memang sudah kemana-mana ternyata. Kakek berpesan padaku kelak harus menemukan laki-laki yang baik untukku, dan juga menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Hem… rasanya masa itu masih lama, tapi dipesankan dari sekarang boleh juga lah.. hehe.

Aku iseng bertanya,
“kenapa kakek sendirian ke rumah sakit?”

Kakek-pun menatapku lekat dengan mata rabunnya itu. terlihat berpikir sejenak. Lalu berkata.
“Kakek selalu punya pedoman hidup, kalau Tuhan adalah teman terbaik kemana pun kita pergi. Jadi tak perlulah kita ikut merepotkan orang lain. Pasti ada Yang Maha Kuasa yang menjaga kita. Kalau di Jawa, ada istilah ojo seneng dadi wong ketok. Ketok e dadi wong seneng.” Kurang lebih begitulah yang kakek bilang. Aku kurang bisa menangkap kata-kata Bahasa Jawanya karena belum mahir dengan bahasa itu.
‘ojo seneng dadi wong ketok. Ketok e dadi wong seneng’. Kakek bilang, kalimat itu punya makna yang sangat bagus. Jangan senang menjadi orang yang ‘terlihat’, lebih baik menjadi orang yang selalu terlihat senang atau bahagia di depan orang lain. ‘Show up’ mungkin istilah yang tepatnya untuk kalimat pertama itu. 
Jangan suka menjadi orang yang senang ‘show up’ di depan orang. Selalu ingin terlihat di mata banyak orang, selalu merasa ingin tampil. Karena kata kakek, orang seperti itu justru sering hanya mementingkan gengsi di depan orang. Yaah, orang-orang seperti itu memang sudah sangat banyak aku lihat contohnya. Di kampusku pun beberapa ada yang suka seperti itu. ‘show up’, ingin terlihat pintar dan hebat di mata orang, ingin menarik perhatian dosen. Seringnya, orang seperti itu menyebalkan dan terkadang pelit ilmu. 

“Lebih baik jadi orang yang terlihat selalu senang.” Kata kakek. Jadi yaaah.. tak perlu lah kita mengabarkan pada orang kita ini sedang sakit, kita ini sedang susah. Biasanya orang yang ceria itu, aslinya punya banyaaaak sekali masalah dan kesulitan. Tapi ia pandai membungkus kesulitan itu dengan senyum dan tawa yang juga membuat orang sekelilingnya senang. Membagikan kebahagiaan ke orang lain, walau keadaan sendiri sebenarnya sedang susah. Ah, aku juga ingin bisa menjadi orang yang keren seperti itu. :D
Jadi itu alasannya kenapa kakek sendirian. Kakek tak mau merepotkan orang, juga tak mau orang banyak tahu tentang kepenatannya. Kakek begitu percaya bahwa ada yang Maha Kuasa yang selalu menemani setiap masa sulitnya. Mungkin kadang pemikiran orang tua tak begitu masuk akal bagi kita. Tapi jika kita mau lebih menelaah pemikiran itu, ternyata ada bagusnya juga kita menerapkannya dalam keseharian. Menjadi pribadi yang bersyukur, mau menerima takdir dengan ikhlas, pribadi yang mandiri, dan selalu bisa membahagiakan orang-orang sekeliling dan pandai menyembunyikan kesulitan sendiri.

Aku jadi mengangguk-angguk sendiri karena ‘pelajaran hidup’ yang aku terima dari dua orang kakek yang aku temui hari ini. Sebenarnya, inilah satu-satunya yang membuat ke rumah sakit jadi ngangenin buatku. Ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil, ada banyak cerita yang bisa kudapat. Juga, banyak kenalan tentunya. Walaupun nyaris semuanya lansia.. hehe..

“Mbak Zahra.” Seorang dokter akhirnya memanggilku. Aku bangkit, masuk ke ruangannya. Duduk dengan tenang.

“Sudah pernah di sarankan untuk operasi sebelumnya?”

Hm? Operasi? Aku mengernyitkan kening saat dokter bertanya demikian. Haha… yah, aku sudah dengar dari banyak pihak. Penyakit yang aku punya memang memiliki ending harus di operasi jika ingin sembuh total. Walau bukan sekarang tentunya, entah kapan. Aku harap nanti sajalah. Setelah aku sudah menemukan laki-laki yang baik untukku dan setelah aku menjadi ibu yang baik bagi anakku, seperti yang kakek bilang. Operasi? Yah, lagi-lagi seperti yang kakek bilang. Apapun prosesnya, jalani saja dengan ikhlas. Aku yakin aku akan sembuh! :D

Terima kasih kakek satu dan kakek dua! :D


Read More »»

Minggu, 01 Juli 2012

"A Long Visit"


01.27

Aku melap kacamata-ku, dan mengusap pipiku yang basah. Mataku terasa bengkak karena tangisku selama dua jam saat menonton sebuah film drama korea. Tunggu, jangan mengejekku dulu.. Ini bukan sembarang film korea, bukan tentang percintaan anak muda yang semarak difilmkan belakangan ini. Juga bukan tentang tokoh bertampang keren dan cool yang biasanya dicari dari film-film korea. Bukan. Cerita ini tentang seorang ibu. tentang ketulusan seorang ibu, tentang pengorbanan dan cinta seorang ibu.

“A Long Visit”



Film ini sukses menguras airmata-ku ditengah malam. Ada beberapa adegan dalam film ini yang membuatku sesenggukan. Tokoh anak perempuan dalam film ini membuatku teringat akan diriku sendiri. Yang sering membuat ibunya menangis, yang masih sering berkata keras pada ibunya, yang masih sering tak mau menurut dengan kehendak ibunya. Padahal ibunya selalu saja mendahulukan kepentingan anaknya, selalu menyayangi anaknya dengan sempurna. Selalu rela mengorbankan dirinya demi anaknya. Selalu merasa tak masalah dicaci orang asalkan anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia. Selalu mau memaafkan anaknya walau terus saja menyayat luka dihatinya.

Aku jadi teringat satu persatu moment disaat aku membuat ibuku kecewa dan bersedih. Lagi, dan lagi. bahkan terlalu sering aku melukai orang yang telah bersakit-sakit melahirkan aku ini. ibu. Aku jadi menyesali kerasnya kepala-ku dulu. Saat aku terus mengotot agar keinginan-ku bisa dipenuhi, padahal ibu paling tahu kalau itu tidak baik untukku. Saat aku berkata dengan suara yang meninggi pada ibuku, dan itu melukainya. Saat aku membanting pintu kamar-ku, dan itu membuatnya menangis. Ah! Ego yang aku miliki ini sering sekali melukainya.. sebagai anak pertama yang sering membangkang, sebagai anak pertama yang sering melawannya..

Ada kata-kata yang begitu mengena dalam film ini. “Jangan keras pada ibumu. Lembutlah kepadanya selagi kau masih sempat..”. Aku tercenung sesaat saat mendengar dialog itu. Aku menerawang, selagi masih sempat... yah, kita tidak tahu sampai mana batas kesempatan kita untuk dapat berbakti pada orang tua. Pada ibu khususnya. Mungkin waktunya masih panjang, tapi bisa saja begitu singkat. Mendadak aku menjadi takut. Bagaimana jika kesempatan yang aku punya, sebagian besarnya sudah aku habiskan untuk melukai hati ibuku? Bagaimana jika kesempatan yang aku punya, sangat singkat sehingga aku tak sempat membuatnya bangga?

Aku membayangkan hal yang sebenarnya tak ingin aku bayangkan. Yah, takdir siapa yang tahu? Aku takut Allah menjemput ibuku sebelum aku dapat membalas semua jasanya padaku. Aku takut Allah mengambil ibuku sebelum aku mengatakan maaf atas kesalahan yang terus menerus aku perbuat. Aku belum sempat menggenggam tangannya, memeluknya hangat, mengecup tangannya. Hal yang sudah nyaris setahun ini tidak aku lakukan, karena aku jauh disini. ya Allah, aku mohon, jangan Kau ambil orangtua-ku sebelum aku dan adik-adikku selesai melaksanakan tugas sebagai anak dengan baik. jangan Kau ambil mereka sebelum aku dan adikku berhasil membuat mereka bangga pada kami..

Aku kira awalnya, film ini sama seperti film-film yang sering aku tonton. Sang anak pada akhirnya menyesali semua perbuatan salahnya terhadap ibunya, disaat ibunya telah tiada. Hingga akhir kisahnya ditutup dengan penyesalan berkepanjangan dari sang anak. Aku kira, ceritanya akan seperti itu. tapi ternyata film ini sedikit lain. Yang ‘pergi’ duluan justrulah sang anak. Karena kanker, sang anak harus ‘pergi’ duluan meninggalkan ibunya..

Lagi-lagi aku seperti berkaca pada diriku. Aku dan penyakitku. Bisa saja usia yang aku punya tak lebih panjang dari usia orangtuaku, tidak lebih lama dari ibuku. Bisa saja kan? Aku jadi ingat kata-kata ibuku saat lagi-lagi aku mengeluh sakit.

“Sabar.. ini berarti teteh sedang diingatkan oleh Allah.. usia seseorang itu bisa panjang, tapi bisa juga pendek. Hal yang harus teteh lakukan adalah ikhlas menerima takdir itu. ikhlas jika memang usia yang teteh miliki tak sepanjang yang teteh harapkan. Ikhlas, seperti ummi yang juga ikhlas terhadap teteh..”



Airmataku luruh lagi. aku takut, terus saja takut penyakit yang mengganggu ini suatu saat akan merebut nyawaku. Sebelum aku membuatnya bangga, sebelum aku membuatnya hidup dengan bahagia, sebelum aku bisa memperlihatkan betapa aku mencintainya walau terus saja menjadi anak yang pembangkang. Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Apa kelak, penyakit ini yang kelak akan membuat aku mati? Karena setiap dalam sakitnya, aku selalu merasakan hadirnya malaikat maut itu.

Aku belum siap ya Allah.. masih banyak yang harus aku lakukan untuk ibuku. Aku ingin ibuku yang mengenggam tanganku saat aku sampai di pelaminan. Aku ingin melihat ibuku menjadi seorang nenek yang bahagia, dikelilingi oleh anak-anakku kelak. Aku ingin anak-anakku kelak masih bisa melihat nenek dan kakeknya, masih bisa ikut berbakti pada nenek dan kakeknya.. karena itu, aku berharap, baik usiaku maupun usia orangtuaku, bisa sampai pada moment bahagia itu..

Sebentar lagi aku pulang. Kesempatana ini harus aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Bisa birrulwalidain secara langsung, bukan hanya lewat doa dan telepon seperti yang setahun ini aku lakukan. Aku ingin menjadi anak yang benar-benar berbakti pada ibuku. Sebelum aku menjadi ibu bagi anak-anakku..
Read More »»

Semoga


Kabar itu membuat nafsu makanku mendadak hilang. Bukan karena saking buruknya sebuah kabar itu, bukan.. Tapi justru karena sebaliknya. bisa dibilang.. mendengar kabar itu aku seolah-olah menemukan sebuah oase di tengah padang pasir yang terik. Bulu kuduk-ku merinding, hatiku meletup-letup. Kabar ini kabar bahagia. Lalu, kenapa nafsu makanku hilang? Hmm, entahlah. Entah apa yang bereaksi dalam tubuhku saat mendengar kabar menggembirakan ini sehingga rasa laparku bisa menguap begitu saja..

Hm.. mungkin sebenarnya kabar ini belum-lah utuh sebagai sebuah kabar gembira. Masih berupa sebuah kesempatan untuk mendapatkan ‘kabar bahagia’ itu. Tapi hatiku sudah terlanjur mengucap syukur. Allah telah memperlihatkan pintu itu padaku. Pintu menuju jalan keluar dari permasalahan yang aku hadapi kini. Ah, bukan masalah sih sebenarnya, tapi hanya sesuatu yang sesekali mengganggu pikiranku. Dan saat pintu itu kini terlihat di depan mataku, hatiku mulai merasa lega.

Kabar apa itu?

Hm.. hm.. Aku masih belum bisa menuliskannya disini. Kabar ini masih berupa ‘kesempatan’, bukan sesuatu hal yang kini sudah ada dalam genggamanku. Untuk sekarang, aku hanya dapat  menatap ‘pintu’ itu, tapi belum bisa memasukinya. Masih ada bebrapa proses yang harus aku tempuh untuk dapat memasukinya. Masih ada beberapa langkah lagi menuju pintu itu. jadi, aku belum bisa mengabarkannya pada banyak orang, sekarang. Semoga saja, semoga pintu yang sudah Allah perlihatkan itu benar-benar bisa aku masuki. Karena [entah bagi orang lain] bagiku, kabar ini begitu berarti.

Mungkin ini terkesan berbelit. aku sendiri bingung mekmaknai kalimat-kalimat di atas. Aku hanya ingin mencoba mengurai rasa syukur ini. Ketika aku dihadapkan pada KuasaNya, pada keadilanNya, pada kasih sayangNya. Yang kali ini kembali membuat air mataku setetes dua tetes menyembul dari sudut mataku. Aku terharu. Terharu akan cintaNya yang tak pernah habis untukku, padahal aku seringkali melupakanNya di sela-sela langkahku disini. Padahal aku masih saja berlangganan untuk lalai dalam menjalankan perintahNya. Padahal aku masih sering menduakanNya dengan hal-hal dunia yang sebenarnya sama sekali tak menjanjikan kebahagiaanku. 

Tapi Allah, selalu mengingatku.

Selalu mendengar doaku. Selalu menuntunku ketika aku kehilangan arah. Selalu melapangkan hatiku ketika terasa sempit. Selalu, selalu menerima aku kembali walau dengan segunung dosa.. hari ini, ketika telingaku mendengar kabar itu, hatiku bergetar. Karena aku merasakan dekatnya Allah. Karena aku merasakan Maha Mendengarnya Ia.. 

Aku menatap tulisan-tulisan penyemangat di dinding kamarku. Mataku terpaku pada sebuah kalimat,

“Allah tahu, tapi menunggu. Semua akan indah pada waktunya.”

semua ada waktunya. semoga kesempatan ini dapat aku genggam. Semoga aku bisa memasuki pintu itu. Semoga..

Read More »»