Jumat, 26 November 2010

puisinya pak kahlil gibran

CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh.
Read More »»

"The Call"

(regina spektor)

It started out as a feeling
Which then grew into hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
Till it was a battle cry
I’ll come back when you call me
No need to say goodbye


 Just because everything’s changing
Doesn’t mean it’s never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You’ll come back when it’s over
No need to say goodbye
You’ll come back when it’s over
No need to say goodbye


Now we’re back to the beginning
It’s just a feeling and no one knows yet
But just because they can’t feel it, too
Doesn’t means that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
Till they’re before your eyes
You’ll come back when they call you
No need to say goodbye
 

You’ll come back when they call you
No need to say goodbye


*lagu ini bikin hati adem.. :) Read More »»

Seorang Buruh

(dari buku : Chicken soup for the soul)

Aku bukanlah orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara pada anak bungsu kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang.
Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyobongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat… lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami,

“Papamu memilki karier bagus macam apa?” mulailah mereka bertanya.
Bob bergumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh.”
Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami. Katanya, “Mama ingin bicara sama kamu, Nak.” Seraya mencium pipinya yang berlesung pipit.

“Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi mama ragu, apakah kamu tahu apa arti sebenarnya, jadi mama akan menjelaskan padamu.”

“Dalam seluruh industri yang membuat negri kita hebat, dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari…
Setiap kali kamu melihat rumah baru di bangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk mengerjakan pekerjaan besar itu!”

“Memang benar para ekslusif hebat punya meja bagus dan selalu rapi sepanjang hari. Mereka merencanakan proyek besar untuk diselesaikan… dan mengirim memo untuk disampaikan. Tapi untuk mengubah impian mereka menjadi kenyataan, ingatlah ini, anakku. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”

“Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan, berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”

Aku menelan air mata dan berdehem saat memasuki pintu. Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai. Ia memelukku sambil berkata, “Hai, Pa, aku bangga jadi anak papa…
Karena papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

Ed Peterman
Read More »»

Istighfar Kita Masih Butuh Istighfar

Seorang yang shaleh pernah berkata : “Istighfar kita ini masih memerlukan istighfar”. Maksudnya, apabila seseorang mengucapkan istighfar, namun dia tidak meninggalkan maksiat yang diperbuatnya, maka istighfarnya itu masih butuh istighfar.

Sering kita temui, orang berisitghfar hanya dengan lisan mereka saja. Tidak disertai dengan kesungguhan hatinya. Mereka mengucapkan lafadz “Astaghfirullah” namun ucapan tersebut tidak mempengaruhi akhlaknya. Masih dan tetap saja melakukan maksiat tersebut. Dan sadarilah, bahkan terkadang kitapun termasuk kedalamnya…
*Astaghfirullah… >_<


Memang tak ada manusia yang tak pernah khilaf. Tidak ada manusia yang catatan amalnya benar2 bersih dari perbuatan dosa. Hal itu terjadi karena terkadang manusia kalah melawan musuh2nya. Ada banyak hal di dunia ini yang menjadi musuh sebenarnya bagi manusia. Diantaranya adalah nafsunya yang mendorongnya untuk melakukan maksiat dan menjauh dari jalan Allah. Musuhnya yang lain adalah setan, musuh yang tak akan pernah bisa membiarkan manusia melakukan amalan2 ibadah. Musuh yang akan selalu menggoda manusia sampai ajal dunia menjelang. Selain itu, musuh manusia pun bisa berupa keinginan2 yang menjauhkan diri dari jalan Allah. Dan masih ada dunia dan isinya yang seringkali menjerumuskan manusia dalam kebinasaan. Dan masih banyak lagi, yang kesemua itu harus kita perangi.

Dalam hadist, Rasulullah saw. Bersabda :

“Setiap manusia pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.”

Pada hakikatnya, istighfar itu merupakan salah satu nikmat yang besar yang Allah berikan kepada orang2 beriman. Karena hanya dengan mengucapkan istighfar, dan disertai hati yang bersungguh2, dosa2 yang kita lakukan akan terhapus. Orang2 beriman mendapatkan keistimewaan dengan istighfar ini, karena hanya orang beriman sajalah yang boleh mengucapkannya. Namun seiring dengan pertambahan usia bumi, makna istighfar kini hanya menjadi ucapan di lisan belaka.

Fudhoil bin ‘Iyadh berkata, “Istighfar yang tidak disertai dengan berhenti dari dosa, adalah taubatnya para pembohong.”

Untuk itulah, kita yang dianugrahkan Allah menjadi orang2 yang beriman kepadaNya, harus benar2 mengistighfarkan diri dengan istighfarnya orang2 yang beriman. Bukan sekedar di lisan, namun juga hati kita. Dimana disaat beristighfar, kita mengucapkannya dengan niat betul2 untuk bertaubat. Sehingga kita benar2 mendapatkan ampunan dariNya.

Ada banyak waktu yang dianjurkan untuk kita beristighfar. Diantaranya adalah :
  • Setelah melaksanakan ibadah.
Saat shalat, terkadang kita melakukan kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaannya. Untuk itulah kita beristighfar. Nabi Muhammad saw, sesudah salam dari shalat wajib, biasanya beristighfar tiga kali.
  • Di waktu sahur.
Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Qs. Ali ‘imran :17)
  • Ketika menutup majelis.
Dalam bermajelis, tidak jarang kita melakukan kesalahan. Baik itu pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karena itulah, ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk beristighfar. Karena Allah maha mengetahui apa yang kita lakukan dalam majelis, namun kita tak menyadarinya.
  • Istighfar untuk orang2 yang meninggal.
Nabi Muhammad saw, apabila selesai menguburkan mayat, beliau bersabda :
“Beristighfarlah kalian untuk saudara kalian dan mohonkanlah keteguhan untuknya, sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.”

Saat ditanyai dalam kubur, seorang mayit sangat membutuhkan istighfar dari saudara2nya untuk meringankan bebannya dan agar mendapatkan ampunan dari Allah.

Ada empat hukum yang berkaitan dengan istighfar, yaitu :
  • Mundub/sunnah. Dimana istighafr ini dilakukan bukan hanya apabila melakukan maksiat. Tapi bisa disetiap saat. Bisa dilakukan untuk diri sendiri, orangtua, saudara, anak atau istri. Seperti firman Allah dalam surat al-muzzammil ayat 20 : “…dan mohon ampunlah kepada Allah. Sungguh Allah Maha pengampun dan Maha penyayang.”
  • Wajib. Istighfar menjadi wajib hukumnya bagi orang2 mukmin yang telah melakukan dosa. Dosa sekecil apapun, akan dicatat oleh malaikat dalam catatan amal kita. Karena itu, kita diwajibkan untuk bersegera beristighfar setelah melakukan dosa. Agar kita mendapat ampunanNya, dan dosa dalam catatan amal kita dihapuskan.
  • Makruh. Seperti beristighfar dibelakang jenazah. Hal ini dimakruhkan karena rasulullah tidak pernah melakukan ini. Yang dianjurkan adalah beristighfar untuk jenazah saat menshalatkannya dan memakamkannya.
  • Haram, apabila seorang mu’min beristighfar untuk orang yang kafir. Seperti Rasulullah yang diharamkan untuk memohonkan ampunan bagi paman beliau. Seperti yang difirmankan Allah :
“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang2 fasik.” (Qs. Al-Munafiqun : 6)

Buah dari istighfar…
Allah menjanjikan buah yang manis dari istighfar yang kita tanam. Ada banyak bentuk dan macamnya manfaat istighfar yang dapat kita rasakan dalam keseharian. Diantaranya yaitu :
  • Allah mengampuni dosa2 orang yang memohon ampun kepadanya. Hal ini tercantum dalam firmannya:
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatn dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Penganmpun lagi Maha Penyayang.” (An-nisa’ : 110)
  • Salah satu faktor pembawa rezeki. Rasulullah saw. Pernah bersabda dalam hadistnya :
“Brangsiapa yang banyak beristighfar, niscaya Allah memberikan kelapangan baginya dari setiap kecemasan, jalan keluar dari setiap kesempitan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Di dalam hadist ini Rasulullah mengatakan bahwa salah satu buah dari istighfar itu adalah rezeki dari Allah. Rezeki yang arahnya tidak pernah disangka-sangka dan tidak pernah terpikirkan dalam pikiran manusia. Untuk itu, ketika kita ingin mendapat kelapangan rezeki dan berkahnya, perbanyaklah istighfar. Tentu saja, istighfar yang sebenar-benarnya isitighfar.
  • Jalan menuju ke surga.
Dengan di ampuninya dosa2, maka pintu menuju surga akan terbuka. Kita akan diperbolehkan untuk memasuki surgaNya dengan beristighfar. Asalkan seumur hidup kita tetap menjadi orang yang beriman.
  • Sarana memperoleh kesehatan dan kekuatan.
“Dan (dia berkata), ‘Hai kaumku, mohonkanlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Al-Hud : 52)
  • Sarana memperoleh kebersihan hati.
Satu dosa akan menorehkan satu noda di dalam hati kita. Karena tiu, dengan beristighfar, noda2 tersebut akan terhapus dan hati kita kembali bersih.
  • Mencegah terjadinya adzab.
Seperti yang dikatakan oleh Hasan Basri, “Wahai manusia, meninggalkan dosa itu lebih mudah bagimu daripada bertaubat.” Istighfar merupakan sarana bagi kita untuk mencegah adzabNya. Seperti yang di firmankan oleh Allah :
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah(pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal : 33)
  • Meningkatkan derajat setelah mati.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda…
“Sungguh Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Maka, kelak ia akan bertanya. ‘Ya Rabbi, mengapa saya meraih derajat seperti ini?’ Allah menjawab, ‘Karena istighfar yang dipanjatkan anakmu untukmu!” (diriwayatkan oleh Abu Hurairoh).

Karena itulah, kita sebagai seorang anak harus memperbanyak doa untuk orangtua kita. Agar beliau mendapatkan tingkat derajat yang lebih tinggi di sisi Allah, dan mendapatkan kelapangan. Sehingga, seperti itu pula lah anak kita kelak.

Dan masih banyak lagi buah yang bisa kita petik dari istighfar. Yang masing-masing orang akan berbeda buahnya.
Wahai saudara-saudariku… mari kita bersama memperbaiki istighfar kita. Agar istighfar itu bukan hanya menjadi pembasah lidah. Tetapi juga sebagai cahaya kita di surga kelak… amiin…  :)

Read More »»

keimanan -haris isa-

Andai matahari di tangan kananku
takkan mampu mengubah yakinku
terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati


Bilakah rembulan di tangan kiriku
takkan sanggup mengganti imanku
jiwa dan raga ini apapun adanya


Andaikan seribu siksaan
terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
seujung rambut pun, aku takkan bimbang
jalan ini yang kutempuh


Bilakah ajal kan menjelang
jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
cintaku hanyalah untuk-Mu
tetapkan muslimku selalu
Read More »»

Sepotong Episode

Sepotong Episode (masa lalu)

Album : Sepotong Episode
Munsyid : Edcoustic

sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah
bersama sahabatku

reff:
sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

setiap sudut surau itu menyimpan kisah
kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahayaMu

*tiap denger nasyid ini… jadi kangen ama temen2 di piar dulu…
asramaku tercinta… :)
Read More »»

Ramadhan dan Agustus

Kicauan burung menghiasi pagi ini. Gemercik air sungai, menambah syahdunya alam. Angin sejuk sepoi-sepoi menghembus, terdengar dedaunan yang saling bergesek. Senandung alam yang merdu. Damai, tentram. Luntur sudah semua kepenatan hidup. Terlupakan sejenak, dengan rasa damai yang menjalar keseluruh pori-pori tubuh. Seseorang memejamkan matanya, sambil merentangkan tangan berdiri diatas sebuah batu di sungai. Menghirup udara yang segar, sambil tersenyum.

“Pagi yang indah ya, Ram…” ujarnya pada seorang temannya yang terduduk di tepi sungai, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kini ia menurunkan kakinya setengah betis ke dalam sungai. Air yang segar mengejutkan seluruh sel-sel syaraf dalam otaknya.

“Ya, tapi tidak bagiku Gus…” tanggap Ramadhan, sambil menghela nafas panjang, serasa ingin melepas semua beban yang memberatkan hatinya, menganggu pikirannya. Agustus mendelik heran.


“Apa yang membebanimu, sobat?” Tanya agustus pada sahabatnya itu. Ramadhan hanya mendesah pelan. Ia pun akhirnya menghampiri Ramadhan, duduk di batu yang lebih dekat dengannya.

“Ceritalah… mungkin aku bisa membantu?” Tanya agustus sekali lagi.

“Aku yakin kau tidak bisa membantuku, Gus…” Ramadhan memperhatikan riak-riak sungai dengan tatapan kosong.

“Hmm, setidaknya dengan bercerita akan mengurangi bebanmu. Ceritalah…” bujuk Agustus lagi.

“Hufft. Aku takut Gus. Aku takut kalau-kalau laporanku tahun ini mengecewakan lagi.” Agustus mengerutkan kening.

“Laporan?”

“Ya… Laporanku. Kau enak, Gus… setidaknya laporanmu tidak mengecewakan seperti laporanku.” Ramadhan berdiri, menginjakkan kakinya di sungai. Ia pun mencari batu yang nyaman untuk diduduki.

“Apa yang membuat laporanmu mengecewakan? Memangnya laporanmu tahun lalu mengecewakan?” Tanya Agustus lagi.

“Ya, sangat. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali laporanku tidak mengecewakan…” Agustus hanya diam, menunggu tiap kata dari sahabatnya itu.

“Kau pasti tau kan, banyak manusia yang tercatat beribadah dalam laporanmu tahun lalu?”

“Ya, banyak sekali. Bahkan hampir semua manusia yang mengikuti agama kita tercatat beribadah dalam laporanku. Hal itu membuatku senang.” Jawab Agustus sembari tersenyum, mengingat laporannya tahun lalu.

“Tapi tidak dalam laporanku… nyaris kosong, Gus. Ya.. Nyaris kosong. Bahkan banyak manusia yang melakukan maksiat yang tercatat dalam laporanku tiap tahunnya.” Ramadhan tertunduk dalam, hal ini benar-benar membuat hatinya perih.

“Hmm? Apa maksudmu? Bukankah dalam laporanmu banyak orang yang berpuasa? Seharusnya itu nilai plus bukan? Seperti laporanku…”

“Ya, mereka semua berpuasa. Tapi puasa tinggallah sekedar puasa bagi mereka. Setelah bulan puasa berlalu, apa yang berubah dari mereka, Gus? Apa? Nihil. Nyaris semuanya sia-sia.” Agustus tertegun.

“Kenapa begitu?”

“Mereka puasa bukan karena ikhlas Gus… bukan karena Allah. Banyak di antara mereka menjadikan puasa hanya sebagai rutinitas setiap tahunnya, tanpa hati. Mereka puasa, tetapi hati mereka tidak dipuasakan. Mereka berlapar-lapar dahaga, tetapi nafsu mereka kenyang-kenyangkan!”

“Puasa bagi mereka hanya sebagai identitas. Identitas?? Ya, hanya identitas belaka, Gus… Hanya sebagai bukti kalau agama islam dalam KTP mereka itu benar…”
Agustus masih menatap Ramadhan dengan tatapan heran. Masih tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan sahabatnya.

“Bukankah mereka semua melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya, Ram? Dalam laporanku, sungguh ramai mesjid-mesjid dengan manusia pada malam hari. Karena bertepatan pula dengan jadwal kerjamu.”
Ramadhan menatap Agustus dengan sendu.

“Ya, Gus… memang benar mereka shalat tarawih, memang benar mereka meramaikan mesjid. Tetapi banyak hati mereka yang salah niat. Mereka jadikan ajang memamerkan diri! Agar terlihat oleh tetangga mereka kalau mereka itu rajin ibadah… taat agama. Mereka shalat, tetapi dengan hati yang sombong. Ada pula yang menjadikan shalat tarawih itu hanya sebagai kewajiban. Ya, kewajiban semata! Bukan karena mereka butuh akan shalat itu sendiri.”

“Khususnya anak-anak remaja, Gus… sungguh perih hati ini melihat mereka yang menodai mesjid. mereka pergi ke mesjid, tetapi bukan untuk tarawih, bukan untuk meramaikan mesjid dengan semestinya. Mereka malah menjadikan mesjid itu untuk tempat mereka berkumpul-kumpul dengan temannya. Atau hanya sebagai alasan mengambil absen ke mesjid. Kau tahu bukan, dalam bulanku ini anak-anak remaja mengikuti pesantren ramadhan, yang mewajibkan mereka untuk tarawih di mesjid?”

“Ya, Ram… itu tercatat dalam laporanku tahun lalu…”

“Hanya karena itulah mereka melakukan shalat itu, Gus… bagaimana aku tidak sedih??” nyaris saja Ramadhan tidak bisa menahan air matanya. Dadanya sudah terasa sangat sesak.

“Lalu, bagaimana dengan infak dan sedekah mereka selama itu, Ram? Bukankah mereka bersedekah?” Tanya agus lagi dengan hati-hati. Kini ia mulai mengerti, dan mulai bisa merasakan apa yang melanda hati sahabatnya itu.

“Sama saja! Sama saja, Gus… ajang menyombongkan diri. Atau ajang sekedar asal-sudah-berinfak saja. Banyak sekali yang justru bukan karena ikhlas. Aku tidak mengerti Gus, kenapa dengan manusia sekarang??”
Agus hanya terdiam. Ia benar-benar tidak tahu semua tentang itu. Yang ia tahu, dan yang ia catat dalam laporannya hanyalah apa yang tampak olehnya secara kasat mata.

“Jangan pula kau tanyakan tentang ibadah-ibadah lainnya, Gus… jangan! Karena semuanya sama saja. NIHIL. Semua yang mereka lakukan itu tidak mengubah apapun. Tidak mempengaruhi mereka sedikitpun. Setelah berpisah mereka dengan bulanku, mereka kembali seperti semula. Kembali jahili! Bukannya kembali menjadi fitri kembali…”

“Itu semua karena mereka sudah kehilangan iman, Gus…. Mereka tidak menyadari ada kekuasaan di atas sana yang selalu mengawasi mereka. hiks” Kali ini hancur sudah pertahanan Ramadhan. Buliran-buliran air hangat menganak sungai di pipinya. Agus hanya bisa menepuk-nepuk pundak Ramadhan dengan lembut. Pikirannya ikut berkecamuk. Tidak menyangka dengan ini semua.

“Mereka tidak tahu, Gus… atau mereka sengaja membutakan mata hati mereka. Mereka tidak peduli akan mulianya bulanku, gus… betapa Rabb kita sudah banyak menjanjikan kebaikan yang berlipat ganda untuk mereka… tetapi mereka tidak peduli.”

“Mereka isi bulanku dengan kesia-siaan. Dengan maksiat! Mereka menodai bulanku dengan tanpa rasa bersalah, Gus… hiks.”
Untuk beberapa saat mereka saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara riak-riak sungai yang memecah keheningan diantara mereka. Angin memang sepoi-sepoi bertiup, tetapi badai sedang melanda hati mereka berdua.

“Aku benar-benar tidak tahu akan itu, Ram…” Agustus kembali membuka suara. Ramadhan terdiam sejenak, lau menghela nafas…

“Ya, Gus… kau memang tidak tahu. Kita membuat laporan dengan pengamatan yang berbeda bukan? Laporanmu kelaklah yang nantinya akan membuktikan kemunafikan mereka itu, Gus…”

“Jadi, laporanmu yang tahun lalu-kah yang membuatmu merasa terbebani seperti ini?” Tanya Agustus lagi.

“Hmmhh… bukan, Gus. Justru laporanku selanjutnya. Aku takut akan mengecewakanku kembali. Aku takut mereka justru menambah noda dalam laporanku ini. Aku sedih…”
Agustus terdiam lagi.

“Akh, tetapi ada diantara mereka yang membuatku terhibur, gus.” Ujar Ramadhan lagi, wajahnya terlihat lebih cerah. Tanpa Agustus bertanya ‘siapa mereka’ pun, Ramadhan kembali bercerita.

“Mereka yang berpuasa karena memang hatinya yang menginginkannya gus, mereka yang ikhlas sepenuh hati mengisi kebaikan-kebaikan dalam bulanku. Beribadah karena Rabb mereka. Mereka yang merindukanku selama sebelas bulan sebelum bulanku datang. Mereka yang benar-benar mempuasakan hati dan nafsunya. Ya, mereka… walau mereka hanya sedikit Gus, tapi mereka bisa menghiburku. Cukup mengobati hatiku.” Ramadhan tersenyum.

“Semoga mereka yang menyenangkan hatimu itu, jumlahnya semakin bertambah kali ini, Ram…” tanggap Agustus lagi.

“Ya, semoga Gus… dan kuharap laporanku selanjutnya tidak mengecewakanku lagi. Walau… ahh, tidak mungkin rasanya. Manusia sekarang sudah benar-benr berbeda Gus. Sudah banyak yang melupakan Rabbnya…” balas Ramadhan lagi.

Beberapa ekor burung terbang rendah, nyaris menyentuh air sungai. Kicauan merdunya menentramkan hati. Benarlah kata Agustus, dengan bercerita, bisa untuk mengurangi beban di hati Ramadhan. Walau begitu, Ramadhan tidak bisa menghilangkan resah di hatinya. Ia benar-benar takut dan sedih. Percakapan itupun berlanjut. Banyak hal yang mereka bicarakan. Tanpa terasa, matahari pun sudah meninggi…
Read More »»

Jalan Kenangan




Jalan-jalan itu kembali membuka memoar lama,
Mengembalikanku ke masa lampau,
Masa-masa dimana aku bermetamorfosis menjadi diriku kini,
Menyiratkan kerinduan yang dalam,
Yang terpatri di kalbuku…


Teringat semua hal lalu yang telah lama kulewati,
Terbayang wajah-wajah sahabat yang lama tak bersua,
Terbayang wajah-wajah teduh sang guru,
terbayang…. Setiap sudut kenangan di sana…

Senyum guru yang bagai embun di hati yang gersang,
Tawa sahabat yang bagai pelipur setiap lara,
Inginku, kembali ke masa itu.
Kicauan burung pagi, suara riakan sungai…

Angin siang semilir, menjadi alunan musik tarian pepohonan,
Silau keemasan setiap senja menyingsing,
Dan saat gelap… beribu-ribu bintang terhampar,
Fenomena yang ganjil di tempatku kini.
Bak surga sebelum surga,
Bersama jiwa-jiwa yang rindu dengan tuhannya.




Jalan-jalan kenangan,
Yang tak akan hilang dalam memori,
Cerita tentang titik balik terbesar dalam hidupku,
Yang akan selalu tersimpan di hati.

Padang, 30 Desember 2009.
Read More »»

Jadilah Generasi Ghuraba’

Ada yang udah tau apa artinya ghuraba’ belum?
Hmm… zhr sendiri ga tau pasti sih, apa arti kata ini secara istilah. Tapi dalam bahasa, kata ghuraba’ bisa berarti asing. Atau mungkin bisa juga di sebut aneh. Aneh karena lain daripada yang lain.

Hah? Terus, judul di atas tadi nyuruh kita buat jadi generasi aneh dong? Kok gitu?



Hehe… bukan itu maksudnya. Nih, ada kutipan hadist yang pernah zhr denger:
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang yang diasingkan “ (HR. Muslim, At Tirmizi, Ibnu Majah, At Tabarani).
Ehem2. kita coba untuk ngebahas hadist ini lebih serius. :)
Islam bermula dalam keadaan asing…

Kita semua pasti tau, bagaimana panjang dan sulitnya perjuangan nabi Muhammad saw dalam menegakkan agama Allah. Banyak sekali mengalami rintangan dan ujian. Dengan lemah lembutnya beliau berusaha untuk mengajak mereka (kafir Quraisy) ke jalan islam, tapi malah di hadiahi dengan umpatan, makian, air ludah bahkan kotoran unta. Kenapa demikian? Hal itu karena terlalu mendarah dagingnya ajaran nenek moyang kafir Quraisy pada masa itu. Sehingga agama islam terasa amat asing bagi mereka.

Sesuatu yang asing, tentulah tidak mudah untuk cepat di terima. Tubuh kitapun, jika ada benda asing yang masuk, pasti akan memberikan reaksi waspada dan hati-hati terhadap benda asing itu. Begitu pula islam, yang amat teramat asing pada masa-masa itu. Berbeda aturan, berbeda cara, berbeda pandangan dan pikiran, berbeda hukum, bahkan berbeda illah dengan ajaran agama Quraisy waktu itu. Butuh proses panjang dan rencana matang untuk merubah keasingan itu menjadi biasa. Dan seperti yang kita tahu, dakwah rasulullah itu tidak singkat, bahkan bertahun-tahun. Orang akan lebih mudah menerima apa yang memang sudah biasa di lingkungannya.

Jadi,, apa hubungannya dengan sekarang? Kenapa islam dikatakan asing sih?
Hmmhh…. sekarang, mari kita sama2 memperhatikan. Bagaimana kondisi islam saat ini. Naas bukan? Banyak sekali orang yang mengaku dirinya islam, namun bertingkah laku selayaknya bukan islam. Banyak orang yang mengaku bersyahadat, namun kenyataannya sama sekali tidak bertanggung jawab dengan syahadat yang diucapkannya itu. Dan ini terjadi hampir di semua golongan masyarakat. Para pemimpin banyak yang korupsi, para hakim banyak yang tidak adil. Mereka yang merasa memiliki kekuasaan tak pernah berpikir, bahwa harta2 yang mereka nikmati dari hasil korupsi itu adalah tangis darah masyarakat kecil. Rumah mewah mereka bangun, di sisi lain banyak anak tak mampu bersekolah harus mengorbankan cita2nya…

Bagaimana dengan kalangan pelajar??
Ayolah teman2,, kita semua sama2 mengetahui. Bahwa contekan2 kecil saat ujian itu semakin lama akan mendidik kita menjadi koruptor masa depan. Sebagai penerus mereka2 yang memakan harta haram disana. Banggakah kita menjadi penerus mereka??
Betapa batunya hati kita kalau kita berbangga diri akan hal itu.
Begitu banyaknya maksiat yang dilakukan orang2 sekarang. Dan akuilah, kita pun terkadang masuk dalam golongan tersebut. Hal2 yang mendekati zina, bertebaran dimana-mana. Hal2 yang mengumbar aurat banyak sekali kita temukan. List daftar anak2 yang durhaka kepada orang tuanya pun semakin panjang. Para orangtua yang semakin tak peduli akan amanahnya terhadap anak pun tak kalah banyaknya. Sungguh mengenaskan! Betapa rasul kita, Muhammad saw. menangisi kita, takut karena kita tak akan kuat merasakan adzabNya.

Dan lihatlah….
Perempuan2 shalihah yang menjaga auratnya semakin sedikit dibandingkan dengan umat di dunia ini. Para lelaki shaleh, para pengemban amanah sebagai pemimpin yang adil semakin berkurang… mereka yang tetap teguh memegang ajaran agama islam, berusaha menjalankan kewajiban sebagai makhlukNya, bersusah payah menahan diri dari segala yang dilarangNya, lebih sedikit jumlahnya dibanding mereka2 yang tak tahu apa tujuan mereka diciptakan dibumi ini…
Merekalah generasi ghuraba’…

Generasi yang di akhir zaman semakin sedikit jumlahnya. Semakin terasa asing. Semakin di anggap aneh oleh orang2 sekitar. Aneh? Kenapa aneh? Ya…. terkadang orang menganggap aneh kepada perempuan2 yang konsisten dengan jilbabnya, terkadang memandang aneh dengan laki-laki yang menolak bersalaman dengan yang bukan mahramnya, memandang aneh kepada pemimpin yang tak mau menerima uang sogokan. Aneh, karena ajaran2 islam kini semakin asing. Aturan2 islam semakin di tinggalkan.

Aneh, itu kata mereka yang mengaku islam namun tak mengenal agamanya sendiri!

Wahai teman2ku…
Janganlah malu kita menjadi orang2 aneh di hadapan mereka. Janganlah kita enggan mengenalkan jati diri kita sebagai seorang muslim!… jadilah kita generasi ghuraba’…
Generasi yang di anggap asing, karena hidup dengan berjalan sesuai dengan aturanNya.
Generasi yang akan mendapat keberuntungan di akhirat kelak….

Dengan berusaha berjalan lurus mengikuti jalanNya. Berusaha dan selalu berusaha mencari hidayahNya. Bukan dengan menjauh dan semakin meninggalkanNya. Kenalkan pada mereka bagaimana islam itu sebenarnya. Islam itu agama yang suci, dan mereka telah mengotori agamanya sendiri. Mereka? Siapa mereka? Yaitu orang2 yang tak mau mengenal agamanya sendiri, tidak ingin mengenal penciptanya sendiri.
Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan2 yang tidak di ridhai oleh Allah…
Amiiin!
Jadilah generasi ghuraba’! :)
Read More »»