01.27
Aku melap kacamata-ku, dan mengusap pipiku yang basah.
Mataku terasa bengkak karena tangisku selama dua jam saat menonton sebuah film
drama korea. Tunggu, jangan mengejekku dulu.. Ini bukan sembarang film korea,
bukan tentang percintaan anak muda yang semarak difilmkan belakangan ini. Juga
bukan tentang tokoh bertampang keren dan cool yang biasanya dicari dari
film-film korea. Bukan. Cerita ini tentang seorang ibu. tentang ketulusan
seorang ibu, tentang pengorbanan dan cinta seorang ibu.
“A Long Visit”
Film ini sukses menguras airmata-ku ditengah malam. Ada
beberapa adegan dalam film ini yang membuatku sesenggukan. Tokoh anak perempuan
dalam film ini membuatku teringat akan diriku sendiri. Yang sering membuat
ibunya menangis, yang masih sering berkata keras pada ibunya, yang masih sering
tak mau menurut dengan kehendak ibunya. Padahal ibunya selalu saja mendahulukan
kepentingan anaknya, selalu menyayangi anaknya dengan sempurna. Selalu rela
mengorbankan dirinya demi anaknya. Selalu merasa tak masalah dicaci orang asalkan
anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia. Selalu mau memaafkan anaknya
walau terus saja menyayat luka dihatinya.
Aku jadi teringat satu persatu moment disaat aku membuat
ibuku kecewa dan bersedih. Lagi, dan lagi. bahkan terlalu sering aku melukai orang
yang telah bersakit-sakit melahirkan aku ini. ibu. Aku jadi menyesali kerasnya
kepala-ku dulu. Saat aku terus mengotot agar keinginan-ku bisa dipenuhi,
padahal ibu paling tahu kalau itu tidak baik untukku. Saat aku berkata dengan
suara yang meninggi pada ibuku, dan itu melukainya. Saat aku membanting pintu
kamar-ku, dan itu membuatnya menangis. Ah! Ego yang aku miliki ini sering
sekali melukainya.. sebagai anak pertama yang sering membangkang, sebagai anak
pertama yang sering melawannya..
Ada kata-kata yang begitu mengena dalam film ini. “Jangan
keras pada ibumu. Lembutlah kepadanya selagi kau masih sempat..”. Aku tercenung
sesaat saat mendengar dialog itu. Aku menerawang, selagi masih sempat... yah,
kita tidak tahu sampai mana batas kesempatan kita untuk dapat berbakti pada
orang tua. Pada ibu khususnya. Mungkin waktunya masih panjang, tapi bisa saja
begitu singkat. Mendadak aku menjadi takut. Bagaimana jika kesempatan yang aku
punya, sebagian besarnya sudah aku habiskan untuk melukai hati ibuku? Bagaimana
jika kesempatan yang aku punya, sangat singkat sehingga aku tak sempat
membuatnya bangga?
Aku membayangkan hal yang sebenarnya tak ingin aku
bayangkan. Yah, takdir siapa yang tahu? Aku takut Allah menjemput ibuku sebelum
aku dapat membalas semua jasanya padaku. Aku takut Allah mengambil ibuku
sebelum aku mengatakan maaf atas kesalahan yang terus menerus aku perbuat. Aku
belum sempat menggenggam tangannya, memeluknya hangat, mengecup tangannya. Hal
yang sudah nyaris setahun ini tidak aku lakukan, karena aku jauh disini. ya
Allah, aku mohon, jangan Kau ambil orangtua-ku sebelum aku dan adik-adikku
selesai melaksanakan tugas sebagai anak dengan baik. jangan Kau ambil mereka
sebelum aku dan adikku berhasil membuat mereka bangga pada kami..
Aku kira awalnya, film ini sama seperti film-film yang
sering aku tonton. Sang anak pada akhirnya menyesali semua perbuatan salahnya
terhadap ibunya, disaat ibunya telah tiada. Hingga akhir kisahnya ditutup
dengan penyesalan berkepanjangan dari sang anak. Aku kira, ceritanya akan
seperti itu. tapi ternyata film ini sedikit lain. Yang ‘pergi’ duluan justrulah
sang anak. Karena kanker, sang anak harus ‘pergi’ duluan meninggalkan ibunya..
Lagi-lagi aku seperti berkaca pada diriku. Aku dan
penyakitku. Bisa saja usia yang aku punya tak lebih panjang dari usia
orangtuaku, tidak lebih lama dari ibuku. Bisa saja kan? Aku jadi ingat
kata-kata ibuku saat lagi-lagi aku mengeluh sakit.
“Sabar.. ini berarti teteh sedang diingatkan oleh Allah.. usia
seseorang itu bisa panjang, tapi bisa juga pendek. Hal yang harus teteh lakukan
adalah ikhlas menerima takdir itu. ikhlas jika memang usia yang teteh miliki
tak sepanjang yang teteh harapkan. Ikhlas, seperti ummi yang juga ikhlas
terhadap teteh..”
Airmataku luruh lagi. aku takut, terus saja takut penyakit
yang mengganggu ini suatu saat akan merebut nyawaku. Sebelum aku membuatnya
bangga, sebelum aku membuatnya hidup dengan bahagia, sebelum aku bisa
memperlihatkan betapa aku mencintainya walau terus saja menjadi anak yang
pembangkang. Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Apa kelak, penyakit ini
yang kelak akan membuat aku mati? Karena setiap dalam sakitnya, aku selalu
merasakan hadirnya malaikat maut itu.
Aku belum siap ya Allah.. masih banyak yang harus aku
lakukan untuk ibuku. Aku ingin ibuku yang mengenggam tanganku saat aku sampai
di pelaminan. Aku ingin melihat ibuku menjadi seorang nenek yang bahagia,
dikelilingi oleh anak-anakku kelak. Aku ingin anak-anakku kelak masih bisa
melihat nenek dan kakeknya, masih bisa ikut berbakti pada nenek dan kakeknya..
karena itu, aku berharap, baik usiaku maupun usia orangtuaku, bisa sampai pada
moment bahagia itu..
Sebentar lagi aku pulang. Kesempatana ini harus aku gunakan
dengan sebaik-baiknya. Bisa birrulwalidain secara langsung, bukan hanya lewat
doa dan telepon seperti yang setahun ini aku lakukan. Aku ingin menjadi anak
yang benar-benar berbakti pada ibuku. Sebelum aku menjadi ibu bagi
anak-anakku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar