Minggu, 01 Juli 2012

"A Long Visit"


01.27

Aku melap kacamata-ku, dan mengusap pipiku yang basah. Mataku terasa bengkak karena tangisku selama dua jam saat menonton sebuah film drama korea. Tunggu, jangan mengejekku dulu.. Ini bukan sembarang film korea, bukan tentang percintaan anak muda yang semarak difilmkan belakangan ini. Juga bukan tentang tokoh bertampang keren dan cool yang biasanya dicari dari film-film korea. Bukan. Cerita ini tentang seorang ibu. tentang ketulusan seorang ibu, tentang pengorbanan dan cinta seorang ibu.

“A Long Visit”



Film ini sukses menguras airmata-ku ditengah malam. Ada beberapa adegan dalam film ini yang membuatku sesenggukan. Tokoh anak perempuan dalam film ini membuatku teringat akan diriku sendiri. Yang sering membuat ibunya menangis, yang masih sering berkata keras pada ibunya, yang masih sering tak mau menurut dengan kehendak ibunya. Padahal ibunya selalu saja mendahulukan kepentingan anaknya, selalu menyayangi anaknya dengan sempurna. Selalu rela mengorbankan dirinya demi anaknya. Selalu merasa tak masalah dicaci orang asalkan anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia. Selalu mau memaafkan anaknya walau terus saja menyayat luka dihatinya.

Aku jadi teringat satu persatu moment disaat aku membuat ibuku kecewa dan bersedih. Lagi, dan lagi. bahkan terlalu sering aku melukai orang yang telah bersakit-sakit melahirkan aku ini. ibu. Aku jadi menyesali kerasnya kepala-ku dulu. Saat aku terus mengotot agar keinginan-ku bisa dipenuhi, padahal ibu paling tahu kalau itu tidak baik untukku. Saat aku berkata dengan suara yang meninggi pada ibuku, dan itu melukainya. Saat aku membanting pintu kamar-ku, dan itu membuatnya menangis. Ah! Ego yang aku miliki ini sering sekali melukainya.. sebagai anak pertama yang sering membangkang, sebagai anak pertama yang sering melawannya..

Ada kata-kata yang begitu mengena dalam film ini. “Jangan keras pada ibumu. Lembutlah kepadanya selagi kau masih sempat..”. Aku tercenung sesaat saat mendengar dialog itu. Aku menerawang, selagi masih sempat... yah, kita tidak tahu sampai mana batas kesempatan kita untuk dapat berbakti pada orang tua. Pada ibu khususnya. Mungkin waktunya masih panjang, tapi bisa saja begitu singkat. Mendadak aku menjadi takut. Bagaimana jika kesempatan yang aku punya, sebagian besarnya sudah aku habiskan untuk melukai hati ibuku? Bagaimana jika kesempatan yang aku punya, sangat singkat sehingga aku tak sempat membuatnya bangga?

Aku membayangkan hal yang sebenarnya tak ingin aku bayangkan. Yah, takdir siapa yang tahu? Aku takut Allah menjemput ibuku sebelum aku dapat membalas semua jasanya padaku. Aku takut Allah mengambil ibuku sebelum aku mengatakan maaf atas kesalahan yang terus menerus aku perbuat. Aku belum sempat menggenggam tangannya, memeluknya hangat, mengecup tangannya. Hal yang sudah nyaris setahun ini tidak aku lakukan, karena aku jauh disini. ya Allah, aku mohon, jangan Kau ambil orangtua-ku sebelum aku dan adik-adikku selesai melaksanakan tugas sebagai anak dengan baik. jangan Kau ambil mereka sebelum aku dan adikku berhasil membuat mereka bangga pada kami..

Aku kira awalnya, film ini sama seperti film-film yang sering aku tonton. Sang anak pada akhirnya menyesali semua perbuatan salahnya terhadap ibunya, disaat ibunya telah tiada. Hingga akhir kisahnya ditutup dengan penyesalan berkepanjangan dari sang anak. Aku kira, ceritanya akan seperti itu. tapi ternyata film ini sedikit lain. Yang ‘pergi’ duluan justrulah sang anak. Karena kanker, sang anak harus ‘pergi’ duluan meninggalkan ibunya..

Lagi-lagi aku seperti berkaca pada diriku. Aku dan penyakitku. Bisa saja usia yang aku punya tak lebih panjang dari usia orangtuaku, tidak lebih lama dari ibuku. Bisa saja kan? Aku jadi ingat kata-kata ibuku saat lagi-lagi aku mengeluh sakit.

“Sabar.. ini berarti teteh sedang diingatkan oleh Allah.. usia seseorang itu bisa panjang, tapi bisa juga pendek. Hal yang harus teteh lakukan adalah ikhlas menerima takdir itu. ikhlas jika memang usia yang teteh miliki tak sepanjang yang teteh harapkan. Ikhlas, seperti ummi yang juga ikhlas terhadap teteh..”



Airmataku luruh lagi. aku takut, terus saja takut penyakit yang mengganggu ini suatu saat akan merebut nyawaku. Sebelum aku membuatnya bangga, sebelum aku membuatnya hidup dengan bahagia, sebelum aku bisa memperlihatkan betapa aku mencintainya walau terus saja menjadi anak yang pembangkang. Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Apa kelak, penyakit ini yang kelak akan membuat aku mati? Karena setiap dalam sakitnya, aku selalu merasakan hadirnya malaikat maut itu.

Aku belum siap ya Allah.. masih banyak yang harus aku lakukan untuk ibuku. Aku ingin ibuku yang mengenggam tanganku saat aku sampai di pelaminan. Aku ingin melihat ibuku menjadi seorang nenek yang bahagia, dikelilingi oleh anak-anakku kelak. Aku ingin anak-anakku kelak masih bisa melihat nenek dan kakeknya, masih bisa ikut berbakti pada nenek dan kakeknya.. karena itu, aku berharap, baik usiaku maupun usia orangtuaku, bisa sampai pada moment bahagia itu..

Sebentar lagi aku pulang. Kesempatana ini harus aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Bisa birrulwalidain secara langsung, bukan hanya lewat doa dan telepon seperti yang setahun ini aku lakukan. Aku ingin menjadi anak yang benar-benar berbakti pada ibuku. Sebelum aku menjadi ibu bagi anak-anakku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar